PERLUNYA PENYESUAIAN DIRI DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

January 23, 2010

Anandha Putri R

0901596

PPB Kelas A

Pendahuluan

Kita hidup tentu saja tidak sendiri, melainkan sebagai makhluk sosial yang setiap saat membutuhkan dan pasti membutuhkan orang lain. Interaksi sosial pun acap kali menjadi hal mutlak yang dilakukan oleh setiap makhluk sosial seperti kita. Penyesuaian diri merupakan salah satu persyaratan penting bagi terciptanya kesehatan jiwa/mental individu. Banyak individu yang menderita dan tidak mampu mencapai kebahagian dalam hidupnya, karena ketidakmampuannya menyesuaikan diri, baik dengan kehidupan keluarga, sekolah, pekerjaan, dan dalam masyarakat pada umumnya. Tidak jarang pula ditemui bahwa orang-orang mengalami stres dan depresi disebabkan oleh kegagalan mereka untuk melakukan penyesuaian diri dengan kondisi yang penuh tekanan. Dan hal itu pun dapat diakibatkan karena mereka sendiri pun belum tahu betul apa yang dinamakan dengan proses penyesuaian diri. Mungkin sekilas ini merupakan hal mudah yang bisa dilakukan setiap individu. Namun pada kenyataannya, banyak individu yang gagal karena konsep penyesuaian diri itu tidak ada dan tidak dilakukan dengan baik.. Dan setidaknya, hal ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan kita dalam menghadapi segala tantangan dan perubahan-perubahan yang akan terjadi nanti.

A. Apakah Penyesuaian Diri itu ?

Penyesuaian diri merupakan faktor penting dalam kehidupan manusia. Begitu pentingnya penyesuaian diri, kita sering mendengar ungkapan seperti : “ Hidup manusia dari lahir sampai mati adalah sebuah penyesuaian diri”. Dalam penyesuaian diri, dapat ditemui banyak karakteristik yang membentuk kepribadian seseorang. Tentu saja banyak perbedaan sifat yang dimiliki oleh setiap individu. Dan tugas kita disini adalah bagaimana kita dapat menyesuaikan diri dan masuk ke dunia yang dipenuhi berbagai perbedaan itu. Dalam psikologi klinis, sering ditemui pernyataan para ahli yang menyebutkan bahwa “ Kelainan-kelainan kepribadian tidak lain adalah kelainan-kelainan penyesuaian diri.” Dan kelainan-kelainan kepribadian seseorang itu sering dikenal dengan sebutan “maladjustment” yang artinya tidak ada penyesuaian atau tidak mampu menyesuaikan diri.

Misalnya, seorang anak yang mengalami hambatan-hambatan emosional sehingga ia menjadi nakal, anak itu sering disebut maladjustment child (Gunarsa, 1981).

Pada dasarnya maladjustment tersebut terjadi pada setiap individu. Namun, pada sebagian orang, maladjustment tersebut keras dan menetap sehingga menghancurkan dan mengganggu kehidupan yang efektif. Dalam melakukan penyesuaian diri, seseorang mempunyai cara dan sifat masing-masing. Ada sebagian orang menyesuaiakan diri terhadap lingkungan sosial tempat ia hidup dengan sukses; sebagian lainnya tidak sanggup melakukannya. Bisa jadi, mereka mempunyai kebiasaan yang tidak serasi untuk berperilaku demikian, sehinggga menghambat penyesuaian diri sosial baginya atau dapat juga dikatakan, orang tersebut gagal dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Saat ini misalnya, banyak mahasiswa baru pada perguruan tinggi harus melakukan adaptasi dengan lingkungannya yang baru. Mereka jelas berbeda latar belakang, suku, bahkan agama. Dan justru tugas pertama yang harus dilakukan adalah bagaimana mereka dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru itu. Menyatukan berbagai perbedaan dengan tujuan yang sama. Ketika dalam proses ini, ada pula konflik dalam jiwa masing-masing. Konflik antara penyesuaian diri dengan lingkungan dan pembentukan pribadi dalam menyikapi segala sesuatunya yang berbeda ketika hanya menjadi seorang siswa. Tapi ada juga sebagian dari mereka yang gagal dalam melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan barunya, sehingga mereka menjauhi dan menghindari mahasiswa lain, atau mungkin mempunyai permusuhan terhadap yang lain, sehingga mereka selalu dalam keadaan cemas dan tidak tenang.

&nb sp;                                                                                                                                                                                                                                         &nb sp;                                                                                                                                                                                                                                                               &nb sp;                                                                                                                                                                                                                                                               &nb sp;                                                                                                                                                                                                                                                               &nb sp;                                                                                                                                                                                                                                                               &nb sp;                                                                                                                                                                                                                                                               &nb sp;                                                                                                                                                                                                                                                               &nb sp;                                                                                                                                                                                                                                                               &nb sp;                                                                                                                                                                                                                                                               &nb sp;                                                                                                                                                                                                                                                               &nb sp;                                                                                                                                                                                                                                                               &nb sp;

B. Batasan Penyesuaian Diri

Menurut Mustafa Fahmi, penyesuaian adalah “Suatu proses dinamik terus menerus yang bertujuan untuk mengubah kelakuan guna mendapatkan hubungan yang lebih serasi antara diri dan lingkungan” (Fahmi, 1977:24).W.A. Gerungan dalam buku Psikologi Sosial-nya, menjelaskan :

Menyesuaikan diri itu kami artikan dalam artinya yang luas, dan dapat berarti: mengubah diri sesuai dengan lingkungan, tetapi juga: mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan) diri. Penyesuaian diri dalam artinya yang pertama disebut juga penyesuaian diri yang autoplastis (auto = sendiri, plastis = dibentuk), sedangkan penyesuaian diri yang kedua juga disebut penyesuaian diri yang aloplastis (alo = yang lain). Jadi, penyesuaian diri ada artinya yang “pasif”, dimana kegiatan kita ditentukan oleh lingkungan, dan ada artinya yang “aktif”, dimana kita memengaruhi lingkungan (Gerungan, 1987:55).

Sementara itu, James F. Calhoun dan Joan Ross Acocella memberikan definisi yang lebih plastis mengenai penyesuaian diri ini. Dikatakan, “Penyesuaian dapat didefinisikan sebagai interaksi Anda yang kontinu dengan diri Anda sendiri, dengan orang lain, dan dengan dunia Anda” (Calhoun dan Acocella, 1990:13). Menurut pandangan mereka, ketiga faktor itu secara konstan mempengaruhi Anda.

Diri Anda sendiri – yaitu jumlah keseluruhan dari apa yang telah ada pada Anda: tubuh Anda, perilaku Anda, dan pemikiran serta perasaan Andan- adalah sesuatu yang Anda hadapi setiap detik Anda.

Adapun orang lain, menurut Calhoun dan Acocella, jelas bahwa mereka berpengaruh besar pada kita, sebagaimana kita juga berpengarh besar terhadap mereka. Sama juga, dunia kita – penglihatan dan penciuman serta suara yang mengelilingi kita saat kita menyelesaikan urusan kita –  memengaruhi kita, dan kita memengaruhi mereka.

Dari penjelasan para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri itu intinya adalah “Kemampuan untuk membuat hubungan yang memuaskan antara orang dan lingkungan”.

Lingkungan di sini adalah semua pengaruh terhadap seorang individu. Yang dapat mempengaruhi kegiatannya untuk mencapai ketenangan jiwa dan raga dalam kehidupan. Lingkungan tersebut terdiri dari tiga aspek, yaitu :

1.      Lingkungan Alamiah

Adalah alam luar dan semua yang melingkungi individu yang vital dan alami, seperti pakaian, tempat tinggal, makanan, dan sebagainya.

2.      Lingkungan Sosial dan Kebudayaan

Adalah masyarakat di mana individu itu hidup, termasuk anggota-anggotanya, adat kebiasaannya, dan peraturan yang mengatur hubungan masing-masing individu antara satu sama lain.

3.      Diri (the self)

Tempat individu harus mampu berhubungan dengannya dan seyogianya mempelajari: bagaimana cara mengaturnya, menguasainya, dan mengendalikan keinginan serta tuntutannya apabila tuntutan dan keinginan tersebut tidak patut atau tidak masuk akal.

C. Bentuk-Bentuk Penyesuaian Diri

Bentuk-bentuk penyesuaian diri itu bisa kita klasifikasikan dalam dua kelompok, yaitu yang adaptive dan yang adjustive (Gunarsa, 1981).

  1. Yang Adaptive

Bentuk penyesuaian diri ini sering dikenal dengan istilah adaptasi. Penyesuaian ini lebih bersifat badani yang artinya perubahan-perubahan dalam proses badani untuk menyesuaikan diri terhadap keadaan lingkungan. Berkeringat ataupun berpakaian tebal merupakan juga bentuk penyesuaian terhadap lingkungan. Darwin (dalam ilmu biologi) mengamati bahwa spesies yang mampu bertahan adalah yang mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam lingkungan mereka.

Dan sudah diperdebatkan bahwa manusia akhirnya yang akan mendominasi planet karena manusia adalah yang paling mampu beradaptasi dengan mengkhususkan pada organ yang tidak khusus – otak ( Gladstone , 1994).

  1. Yang Adjustive

Penyesuaian yang menyangkut kehidupan psikis adalah sebagai bentuk penyesuaian yang adjustive. Penyesuaian ini merupakan penyesuaian diri tingkah laku terhadap aturan-aturan atau norma-norma yang ada pada lingkungan tersebut. Dengan kata lain, penyesuaian terhadap norma-norma. Contohnya, kita turut bersedih apabila ada kerabat atau tetangga kita yang meninggal dunia, Wajah duka kita pun sebagai tanda dalam menyesuaikan diri terhadap suasana sedih tersebut.

D. Aspek-aspek Penyesuaian Diri

Penyesuaian diri tentu memiliki beberapa aspek, diantaranya adalah penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial.

  1. Penyesuaian Pribadi merupakan kemampuan individu untuk menerima dirinya sendiri sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Dia mampu menyadari siapa dirinya yang sebenarnya, kelebihan dan kekuranganya dan mampu bertindak secara obyektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut. Penyesuaian ini dikatakan berhasil apabila tidak adanya rasa benci,kecewa dan adanya rasa tanggung jawab. Tidak pernah mengeluh, cemas, khawatir atau kegoncangan dalam dirinya.
  2. Penyesuaian Sosial. Karena setiap individu hidup di masyarakat, maka dia harus mampu menyesuaikan diri dengan sekitarnya. Dalam masyarakat tersebut terdapat proses saling mempengaruhi satu sama lain. Maka akan lahir suatu kebudayaan, aturan, hukum, dan nilai-nilai yang berlaku, yang harus dipatuhi bersama dan untuk tujuan bersama pula. Penyesuaian sosial berarti merupakan hubungan antara individu dengan lingkungan tempat tinggalnyA, keluarga, teman dan masyarakat luas pada umumnya.

E. Mengapa Kita Membutuhkan Penyesuaian Diri ?

Dari penjelasan-penjelasan sebelumnya, kita sudah tahu bahwa betapa pentingnya melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungan di sekitar kita. Pada dasarnya, kemampuan menyesuaikan diri itu dibentuk oleh kebudayaan setiap individu. Karena jelas, setiap individu berbeda dan mempunyai identitas masing-masing dalam kehidupannya. Hanya, ketika seorang individu itu terjun atau katakanlah berada pada sebuah kelompok, maka individu itu harus melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh kelompok itu sendiri. Dan karena itu, hendaknya setiap orang mengenal dirinya sendiri. Dan itu merupakan salah satu syarat pokok dalam penyesuaian diri yang baik. Dan orang harus menyesuaikan hidupnya sedemikian rupa sehingga dapat memanfaatkan dan melindungi diri terhadap perubahan-perubahan yang ada.

Ada beberapa faktor yang mempunyai pengaruh besar dalam menciptakan penyesuaian diri pada individu (Fahmi, 1977), diantaranya :

a.       Pemuasan kebutuhan pokok dan kebutuhan pribadi

b.      Hendaknya ada kebiasaan-kebiasaan dan keterampilan yang dapat membantu dalam pemenuhan kebutuhan yang mendesak

c.       Hendaknya dapat menerima dirinya

d.      Kelincahan

e.       Penyesuaian dan persesuaian

Kesimpulan

Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri merupakan faktor yang penting dalam kehidupan manusia dan perlu dilakukan. Namun, harus diakui juga, bahwa proses penyesuaian diri itu sulit: pertama, banyak kesulitan penyesuaian diri bersumber pada diri kita sendiri. Kedua, pengaruh-pengaruh yang  ikut membentuk kepribadian kita. Ketiga, usaha-usaha kita untuk memenuhi keperluan dalam dan tuntutan luar dari lingkungan itu harus sesuai dengan tujuan hidup kita.

Daftar Pustaka

Mutadin, Zainun.2002.”Penyesuaian Diri Remaja”.[online].Tersedia :http://www.google.com.[4 September 2002].

Sobur, Alex.2003.Psikologi Umum.Bandung : Pustaka Setia.

MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSI ANAK

January 23, 2010

Riesa Rismawati Siddik
0901484
Mahasiswi PPB/A
2009

Keterampilan apa yang paling membantu anak kita sukses secara akademis maupun dalam kehidupan? Secara umum EQ (Emotional Intelligence Quotient) berperan lebih penting daripada IQ (Intelligence Quotient). Anak-anak yang tumbuh dengan EQ tinggi berani untuk mengambil karir yang menantang dan membangun hubungan yang memuaskan. Istilah “kecerdasan emosional” pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai : “himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.” (Shapiro, 1998:8). Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional. Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ atau keterampilan kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Selain itu, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan. (Shapiro, 1998-10).
Sebuah model pelopor lain yentang kecerdasan emosional diajukan oleh Bar-On pada tahun 1992 seorang ahli psikologi Israel, yang mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai serangkaian kemampuan pribadi, emosi dan sosial yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil dalam mengatasi tututan dan tekanan lingkungan (Goleman, 2000 :180).

Apa itu Emosi?
Emosi adalah rangsangan untuk bertindak. Tingkat Emosi yang tinggi seperti cinta, rasa takut atau marah mudah untuk diidentifikasi. Ada beberapa emosi yang kompleks dan karena itu sulit untuk mengenalinya. Beberapa dapat berlangsung selama beberapa menit saja, tapi ada yang sampai berminggu-minggu lamanya.
Emosi adalah naluri bertahan hidup yang penting. Semua hewan memiliki pengalaman emosional yang serupa dengan manusia, perbedaannya hanyalah manusia memiliki kapasitas yang lebih dalam memikirkan dan mengendalikan emosi.
Apa itu Kecerdasan Emosional (Emotional Quotient)?
Emotional Intelligence (EI) adalah kemampuan seseorang untuk memahami dan mengelola perasaannya sendiri dan orang lain, dan menggunakan informasi tersebut sebagai pedoman untuk mempersiapkan kepada yang lebih baik, membuat keputusan yang lebih baik, berpikir lebih kreatif, memotivasi diri sendiri dan orang lain, dan menikmati kesehatan yang lebih baik, hubungan yang lebih baik dan kehidupan yang lebih bahagia.
Emotional Intelligence (EI) sering diukur sebagai Emotional Intelligence Quotient (EQ).
Social and emotional learning (SEL) adalah proses belajar untuk mencapai EQ yang lebih tinggi. Studi menunjukkan bahwa EQ adalah alat prediksi terbaik dari prestasi masa depan anak; lebih baik daripada faktor apa pun. Sebagian orang mengatakan bahwa EQ adalah alat prediksi yang lebih baik atas kesuksesan daripada IQ atau kombinasi keterampilan tekhnis.
Mengapa harus Mengembangkan Emotional Intelligence?
Walaupun prestasi akademik sangat penting, ada banyak hal-hal lain yang lebih penting dalam hidup kita. Kestabilan emosional tidak hanya berkontribusi pada prestasi akademik, tetapi juga pada kesehatan fisik yang lebih baik, keluarga bahagia dan pengalaman kerja yang memuaskan dalam hidup kita.
Anak-anak yang memiliki Kecerdasan Emosional (EQ) yang tinggi biasanya lebih menonjol dari yang lain. Mereka lebih baik dalam mengendalikan dorongan hati, komunikasi, dalam membuat keputusan bijaksana, dalam memecahkan masalah, dan bagaimana bekerja dengan orang lain, yang mengakibatkannya lebih sehat, lebih bahagia dan lebih sukses kehidupannya.
Bagaimana Orangtua dapat Bantuan Mengembangkan Kecerdasan Emosional Anak-Anak
Dibandingkan dengan IQ, EQ seorang anak bisa dipupuk oleh berbagai metode terbukti secara ilmiah.
Bagaimana kita mendidik kita? Hal ini tergantung pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang kita ajarkan kepada mereka dalam kehidupan. Hal ini bergantung pada jenis pengalaman kita sebagai orangtua, tergantung bagaimana kualitas lingkungan anak-anak kita. Di samping itu, terkait juga dari berapa banyak waktu dan kualitas yang kita berikan kepada mereka setiap hari.
Kebutuhan Emosional apa yang Diperlukan anak?
Saya pikir mengenal dan memahami anak kita adalah langkah pertama.
Seorang bayi yang baru lahir ingin selalu dekat ibunya, karena dia ingin merasa aman. Anak 3 tahun mulai menggambar lingkaran yang mungil – menjadi bersemangat untuk menunjukkan kepada Anda dan ingin mendengar pujian; anak ingin diterima. Anak 5 tahun, membantu ibu untuk mengatur meja makan – berusaha untuk menunjukkan nilainya, ingin menjadi berguna, dihargai, dan dicintai. Seiring dengan pertumbuhannya anak mulai meningkat pada hal yang lebih tinggi lagi dalam mengisi kebutuhan emosional mereka seperti kebutuhan untuk merasa bebas, ingin merdeka, ingin mengambil tantangan, memiliki kreativitas, keberhasilan dll.
Menyadari bahwa semua kebutuhan itu penting bagi emosional mereka adalah merupakan awal yang baik. Untuk kebutuhan emosioal anak yang berbeda dari ke hari itu, orang tua harus selalu ada untuk mereka dengan cara-cara yang berbeda pula.
Seperti apa Keadaan emosional anak yang baik?
• Mengutarakan perasaan mereka dengan jelas dan langsung
• lebih bisa mengendalikan dorongan-dorongan dan keinginan mereka.
• Tidak didominasi oleh emosi negatif seperti rasa takut, kekhwatiran, rasa bersalah, rasa malu, Kekecewaan, rasa putus asa, merasa tidak berdaya, Ketergantungan, pembohongan, Putus Asa.
• Bisa menyeimbangkan perasaan dengan alasan, logika, dan kenyataan.
• Percaya diri
• Independen (mandiri)
• Bisa Memotovasi diri
• Optimistis
• Mengerti perasaan orang lain
• Pembelajar yang baik
• Lebih bertanggung jawab
• Mampu bertahan melawan tekanan
• Mampu menyelesaikan konflik dengan baik
• Memahami rasa putus asa dengan baik
• Tidak terlibat dalam perilaku yang merusak diri seperti narkoba, alkohol
• Memiliki lebih banyak teman
• Di sekolah, mereka lebih baik secara akademis dan mampu menciptakan suasana aman, nyaman, yang membuatnya lebih mudah untuk belajar.
Beberapa tips untuk orang tua.
• Emosional dan sosial anak dapat di tularkan; kita sebagai orangtua dapat membantu mewujudkan emosional dan sosial anak kita yang lebih baik.
• Semakin awal memulai pendidikan emosional lebih baik. Bersiaplah menemukan kebutuhan sosial dan emosional yang berbeda-beda dari ketika dia bayi, balita, menjadi remaja.
• Bantuan anak-anak mempelajari kata-kata untuk mengambarkan perasaan mereka.
• Cari mainan atau produk yang membantu anak-anak untuk membangun kompetensi emosional anak.
• Membicarakan tentang emosi secara terbuka, dan mencari peluang untuk mengajakan untuk mengajarkannya pada anak-anak.
• Ajarkan anak bagaimana mengelola emosi negatif, seperti marah, depresi dll.
• Pujilah anak-anak daslam upaya mereka dalam meningkatkan EQ.
• Ajarkan kompetensi emosional dengan cerita, dan membicarakan film atau website.
• Jadilah teladan. Anak-anak meniru kebiasaan orangtuanya.

REFERENSI

Admin (2010).”Meningkatkan emosi anak”, [online]. Tersedia http://srifuspentik.com. [18 januari 2010]
Goleman, Daniel. (2004). Emitional Intelligence Kecerdasan Emosional Mengapa EQ Lebih Penting Daripada IQ). Jakata: PT Gramedia Pustaka Utama.

srifuspentik.com
Kumpulan Artikel. Artikel Kesehatan, Artikel Islam, Pendidikan, Internet dan teknologi, Lingkungan, ibu dan anak

Kedisiplinan, Apakah Harus dengan Kekerasan?

January 19, 2010

Hesti Febrianti

0900583

PPB A

Disiplin adalah kepatuhan untuk menghormati dan melaksanakan suatu system yang mengharuskan orang untuk tunduk kepada keputusan, perintah dan peraturan yang berlaku. Dengan kata lain, disiplin adalah sikap menaati peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan tanpa pamrih.disiplin adalah kunci sukses, sebab dalam disiplin akan tumbuh sifat yang teguh dalam memegang prinsip, tekun dalam usaha, pantang mundur dalam kebenaran, dan rela berkorban untuk kepentingan agama dan jauh dari sifat putus asa.Perlu kita sadari bahwa betapa pentingnya disiplin dan betapa besar pengaruh kedisiplinan dalam kehidupan, baik dalam kehdupan pribadi, dalam kehidupan masyarakat maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

KEDISIPLINAN TIDAK DENGAN KEKERASAN

Kedisiplinan dalam dunia pendidikan adalah hal yang sangat wajib. Tidak hanya dalam dunia pendidikan, dalam kehidupan sehari-hari, disiplin adalah hal yang harus dan wajib untuk dilakukan. Tapi, jika melakukan kekerasan kepada bawahan atau junior dengan mengatasnamakan kedisiplinan adalah hal yang sangat keliru. Hal ini sering terjadi di dunia pendidikan negara kita yang berujung pada kematian. Berbagai macam kasus tentang kekerasan yang mengatasnamakan kedisiplinan sering terjadi. Banyak korban yang mengalami hal seperti ini. Mereka mengalami siksaan dari senior, atau bahkan guru atau pembimbing akademik mereka. Alasannya adalah karena mereka kurang disiplin. Bagi para senior, kemungkinan mereka melakukan ini karena unsur balas dendam. Bagaimana tidak disebut sebagai balas dendam, mereka melakukan hal ini karena merasa dirinya pernah mengalami hal yang sama, sehingga ingin melakukannya juga pada juniornya. Tentunya ini sangat disayangkan karena tindakan seperti ini mencoreng nama baik sekolah atau kampus mereka. Bahkan mencoreng nama baik dunia pendidikan.

Kekerasan yang dialami siswa di sekolah dapat dilakukan oleh berbagai pihak, seperti guru, petugas sekolah, siswa atau kelompok siswa lainnya. Yang dimaksud dengan kekerasan adalah:

“Bentuk perilaku dimana terjadi pemaksaan atau usaha menyakiti secara psikologis ataupun fisik terhadap seseorang/sekelompok orang yang lebih ‘lemah’ oleh seseorang/sekelompok orang yang lebih ‘kuat’. Pemaksaan atau usaha menyakiti ini dilakukan dalam sebuah kelompok misalnya kelompok siswa satu sekolah”. (Ma, Stein & Mah, Olweus dan Rigby dalam Riauskina, Djuwita, dan Soesetio, 2005:1, dalam www.sejiwa.com).

Sedangkan Coloroso (2007:158), menyatakan bahwa “penindasan atau kekerasan adalah tentang penghinaan, yaitu suatu perasaan tidak suka yang sangat kuat terhadap seseorang yang dianggap tidak berharga, inferior, atau tidak layak mendapat penghargaan“. Kemudian Lipskins (2008:20), mengartikan “Kekerasan sebagai tindakan penyerangan dengan sengaja yang tujuannya melukai korban secara fisik atau psikologis atau keduanya”

Sejalan dengan ini menurut Papalia, dkk yang dikutip oleh Djusman (2007:1) dalam (www.suaranak.go), mendefinisikan “kekerasan sebagai  perilaku agresif yang disengaja dan berulang-ulang untuk menyerang target atau korban, yang secara khusus adalah seseorang yang lemah, mudah di ejek dan tidak membela diri”.

Ada beberapa jenis perilaku penindasan atau kekerasan yang biasa terjadi di kalangan siswa, baik bersifat fisik maupun psikis. Coloroso (2007:46) mengelompokkan penindasan itu ke dalam tiga (3) kelompok berikut:

1)      Penindasan/kekerasan verbal adalah bentuk penindasan yang paling umum dan mudah dilakukan, baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan. Penindasan ini dapat berupa julukan nama, fitnah, celaan, kritik kejam, penghinaan baik yang bersifat pribadi maupun rasial, telepon yang kasar, e-mail yang mengintimidasi, surat kaleng, dan gosip.

2)      Penindasan/kekerasan fisik adalah penindasan yang paling tampak dan dapat diidentifikasi. Yang termasuk jenis ini adalah: memukuli, mencekik, menyikut, meninju, menendang, mencakar, meludahi, dan merusak serta menghancurkan pakaian serta barang-barang anak yang tertindas.

3)      Penindasan/kekerasan relasional adalah pelemahan harga diri si korban, penindasan secara sistematis melalui pengabaian, pengucilan, pengecualian, atau penghindaran. Penindasan ini sulit untuk dideteksi dari luar.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penindasan atau kekerasan pada siswa dapat terjadi secara verbal, fisik dan relasional, baik oleh siswa laki-laki maupun perempuan.

Dampak kekerasan yang Mengatasnamakan Kedisiplinan terhadap Motivasi Belajar

Kekerasan berdampak negatif bagi korbannya, karena dalam hal  ini terjadi ketidakseimbangan kekuasaan dimana para pelaku memiliki kekuasaan yang lebih besar  sehingga korban merasa tidak berdaya untuk melawan mereka. Menurut Riauskina, Djuwita dan Soesetio (2005:4) dalam (www.sejiwa.com), bahwa:

kekerasan tidak memberi rasa aman dan nyaman, membuat anak merasa takut dan terintimidasi, rendah diri serta tak berharga. Ia akan sulit berkonsentrasi dalam belajar, ia akan tak terdorong  untuk bersosialisasi dengan lingkungannya, ia akan enggan bersekolah, ia akan menjadi pribadi yang yang tak percaya diri dan sulit berkomunikasi. Ia akan sulit berpikir jernih sehingga prestasi akademisnya dapat terancam merosot. Dan mungkin pula ia akan kehilangan rasa percaya pada lingkungannya yang banyak menyakiti dirinya.”

Di samping itu, korban kekerasan di sekolah juga dapat memancing timbulnya gangguan psikologis rasa cemas yang berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri dan gejala-gejala gangguan stres pasca trauma (post-traumatic stress disorder) (Djusman, 2007:2, http://www.suaraanak.go). Bahkan lebih jauh,  dapat menghambat aktualisasi diri siswa yaitu keinginan untuk mewujudkan dan mengembangkan potensi diri, yang merupakan tingkat kebutuhan paling atas dalam teori kebutuhan Maslow.

Dari pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa kekerasan di sekolah yang mengatasnamakan kedisiplinan mempunyai dampak yang sangat buruk terhadap siswa baik fisik maupun psikologis, termasuk dampak terhadap motivasi belajar siswa dalam pembelajaran.

Kedisiplinan, merupakan sebuah kata yang selalu diharapakan dan sangat penting dalam menjalani kehidupan sosial dimanapun kita berada. Baik itu di rumah, di sekolah, di jalan, dan dalam hidup bermasyarakat. Kedisiplinan sebagai penegak keteraturan hidup.

Namun, bagaimankah realita sosialisasi kedisiplinan dalam masyarakat?
Keluarga merupakan titik awal sosialisasi nilai dan norma yang hidup di masyarakat. Keluarga sangat menentukan pembentukan nilai, norma, dan kepribadian setiap individu. Selain faktor biologis yang dibawa individu itu sendiri. Banyak cara yang dilakukan untuk menanamkan kedisiplinan dalam diri individu. Cara tersebut dapat bersifat menekan atau mengekang. Sifat ini  misalnya, dengan kekerasan orang tua kepada anak. Agar anaknya takut dan selalu mematuhi keinginanorangtuanya.

Apakah cara tersebut benar?

Tentunya tidak.Di sisi lain, lembaga pembentuk kepribadian adalah sekolah (tempat pendidikan). Banyak tindak kekerasan yang dilakukan oleh oknum ‘senior‘ dan oknum ‘guru’ kepada muridnya. Penanaman kedisiplinan yang keras agar bawahannya takut dan segera mematuhi keinginannya bukanlah cara yang benar untuk menghasilkan generasi-ganerasi muda yang patriotism dan berani. “Kekerasan”, sebuah kata yang mungkin sangat kita benci. Sekarang mari kita renungkan, apakah hanya dengan kekerasan sikap disiplin dapat tertanam dalam hati?. Pantaskah seorang pendidik melakukan tindak kekerasan? Tentunya hal tersebut tidak sesuai dengan tujuan awal dari pendidikan yaitu, meningkatkan SDM dan mencetak insani yang berakhlak mulia.

Apabila guru melakukan tindak kekerasan,bagaimana kepribadian anak didiknya?

Tentunya jiwa-jiwa yang keras dan diktatoris yang akan tertanam dalam hati mereka. Tentunya masih banyak cara yang jauh lebih baik untuk menanamkan kedisiplinan kepada diri setiap individu, salah satunya adalah sikap menghargai dan tolerir terhadap orang-orang di sekitar kita, yang dapat membangkitkan semangat dan kesetiaan orang yang kita bina. Sikap saling menghormati, menghargai, dan saling melengkapi harus kita lakukan agar benih-benih potensi individu yang dapat membangun negeri ini dapat tumbuh subur di bumi ibu pertiwi.

KESIMPULAN

Terdapat pengaruh yang signifikan dan negatif antara kekerasan pada siswa dengan motivasi belajar siswa. Ini bahwa jika prilaku kekerasan terhadap siswa tinggi, maka motivasi belajar siswa cenderung rendah.

Sikap penekanan terhadap kedisiplinan, haruslah mengetahui situasi, kondisi, dan waktu kapan kita harus melakukannya? Sehingga kita bisa membedakan kapan waktunya kita santai, bercanda, tartawa, dan kapan waktunya kita harus disiplin dan serius. Sehingga tidak akan berlebih terhadap tindakan tertentu, yang akhirnya berakibat buruk pada psikologis seseorang.Akhirnya, marilah kita meningkatkan kedisiplinan agar tercipta kehidupan yang teratur dan dapat mengendalikan emosi dan berfikir jernih tentang bagaimana cara menanamkan kedisiplinan. Mari jauhi kekerasan untuk menciptakan hidup yang teratur dan damai.

REFRENSI

Coloroso, Barbara. (2007). Stop Bullying. Jakarta: Serambi

Dimyati dan Mudjiono. (2006). Belajar dan pembelajaran: Jakarta: Rineka Cipta

Djusman, Joko. (2007). “Bullying Menghambat Aktualisasi Siswa”.

http://www.suaraanak.go

Lipskins, Susan. (2008). Menumpas Kekerasan Pelajar Dan Mahasiswa. Banten: Inspirita

Riauskina dkk, (2005). ”Kekerasan Tersembunyi Disekolah”. www.sejiwa.com

KEHORMATAN EMOSIONAL

January 19, 2010

Muhammad Muhajirin
0901353
Mahasiswa PPB
2009

Artikel ini melakukan analisis terhadap salah satu aspek yang dimiliki oleh setiap makhluk hidup. Dalam analisa ini yang di maksud dengan makhluk hidup ialah manusia dan binatang.

Canon telah mengadakan penelitian dengan sorotan sinar “rontgen” terhadap seekor kucing yang baru selesai makan. Ia melihat bahwa perut besarnya aktif melakukan gerakan yang teratur untuk mencerna makanan. Kemudian dibawa ke depannya seekor anjing yang besar dan buas/galak. Pada saat itu, Canon melihat bahwa proses mencerna terhenti seketika, dan pembulu darah di bagian lambung mengkerut, disamping itu tekanan darahnya bertambah dengan sangat tinggi, ditambah lagi dengan perubahan yang bermacam-macam “pada kelenjar-kelenjar seperti bertambahnya keringat dan air liur”.

Berdasarkan percobaan tersebut jadi emosional dapat membawa pada perubahan fisik. Pada manusia pengaruh emosional ini dapat membawa dampak yang positif dan negatif. Membawa dampak positif jika dapat mengatur dan mengendalikannya, sebaliknya jika tidak dapat mengendalikan emosi tersebut, tidak jarang membawa malapetaka dalam kehidupan ini. Mulai dari konflik batin, konflik horizontal, penyakit hati, penyakit fisik, hingga menyebabkan kematian.

Apa yang dimaksud dengan emosi?
Menurut English And English, emosi adalah “a complex feeling state accompained by characteristic motor and glandular activies” (Suatu keadaan perasaan yang kompleks yang disertai karakteristik kegiatan kelenjar dan motoris). Sedangkan Sarlito Wirawan Sarwono berpendapat bahwa emosi merupakan “Setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pada tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang luas (mendalam).

Canon Bard merumuskan teori tentang pengaruh fisiologis terhadap emosi. Teori ini menyatakan bahwa situasi menimbulkan rangkaian pada proses syaraf. Suatu situasi yang saling mempengaruhi antara thalamus (pusat penghubung antara bagian bawah otak dengan susunan uarat syaraf di satu pihak dan alat keseimbangan) atau Cerebellum dengan Creblar cortex (bagian otak yang terletak di dekat permukaan sebelah dalam dari tulang tengkorak, suatu bagian yang berhubungan dengan proses kerjanya pada jiwa taraf tinggi, seperti berfikir).

Jadi dapat disimpulkan Emosi adalah suatu keadaan perasaan yang menimbulkan rangkaian situasi pada proses syaraf disertai warna afektif yeng di interpretasikan melalui perbuatan atau prilaku yang baik atau buruk menurut aturan atau norma-norma yang ada. Cerminan prilaku tersebut yang dimaksudkan Kehormatan Emosional. Kehormatan Emosi ini menitik beratkan kepada pentingnya pengaturan atau pengendalian emosi yang sering disebut dengan “Kecerdasan Emosional”.
Kecerdasan emosional Emotional Intelligence ini merupakan pandangan baru tentang salah satu faktor yang menyebabkan orang bisa meraih kesuksesan, selain kecerdasan inteligensi dalam ukuran kemampuan intelektual atau tataran kognitif. Pendapat itu dikemukakan oleh Daniel Goleman. Kecerdasan emosional ini semakin dipandang perlu dan merupakan suatu keharusan dipahami, dimiliki dan diperhatikan dalam perkembangannya. Hal ini mengingat masalah-masalah yang dihadapi semakin kompleks dan sangat menuntut pengaturan atau pengendalian emosi.
Kecerdasan emosional ini merujuk kepada kemampuan-kemampuan mengendalikan diri, memotivasi diri dan berempati. Tiada lain hal ini di lakukan untuk ketenangan hati dan dampak positif yang akan membawa pada kebahagiaan dalam kehidupan ini.
Ada bebebrapa jenis-jenis emosi dan dampaknya pada perubahan fisik, diantaranya:
a. Terpesona, peristiwa ini terjadi karena ada stimulus yang datang, stimulus itu
biasanya berasal dari penglihatan yang indah contohnya keindahan alam. Dampak
perubahan fisiknya yaitu reaksi elektris pada kulit.
b. Marah,penyebab kegiatan ini sangat kompleks. Efek yang ditimbulkan peredaran
darah bertambah cepat dan tekanan bertambah tinggi, hal ini yang sering
menyebabkan penyakit struk yang banyak menyerang pada masa sekarang ini.
Perubahan pada fisiknya yaitu muka merah, prilaku tak terkontrol dan sebagainya.
c. Terkejut, peristiwa itu terjadi karena ada stimulus yang diketahui secara
mendadak. Perubahan pada fisik yaitu denyut jantung bertambah cepat.
d. Kecewa, perasaan ini muncul ketika apa yang kita kehendaki itu belum tercapai.
perubahan pada fisik, biasanya bernafas panjang.
e. Sakit, rasa ini timbul karena ada bagian dari tubuh kita yang terasa sakit
secara fisik. Perubahan fisiknya bisa pucat, lemah, meringis, dan ada pula yang
meronta-ronta.
f. Takut/tegang, rasa tersebut timbul akibat ada sesuatu hal yang sangat
ditakutinya (hal yang nyata). Misalkan ketika bertemu dengan musuh. Perubahan
fisik yang dapat di lihat biasanya air liur mengering.
g. Takut, takut disini karena perasaanya sendiri, takut karena hal yang tak nyata.
Misalnya takut kepada hantu. Perubahan yang dapat dilihat secara fisik yaitu
berdiri bulu roma.
h. Tegang, tegang disini terjadi akibat rasa kekawatiran ketidakmampuan untuk
melakukan sesuatu, misalnya kondisi ketika ujian dan tidak dapat menjawab
seluruh pertanyaan-pertanyaan disana akan terlihat ketegangan tersebut.
Perubahan pada fisik yang dapat dilihat terganggunya pencernaan, otot-otot
menegang atau bergetar (tremor).

Unsur-unsur Kecerdasan Emosional
ASPEK KARAKTERISTIK PERILAKU
1. Kesadaran Diri
a. Mengenal dan merasakan emosi sendiri
b. Memahami penyebab perasaan yang timbul
c. Mengenal pengaruh perasaan terhadap tindakan
2. Mengola Emosi
a. Bersikap toleran terhadap frustasi dan mampu mengolah amarah secara lebih baik
b. Lebih mampu mengungkapkan amarah dengan tepat tanpa berkelahi
c. Dapat mengendalikan perilaku agresif yang merusak diri sendiri dan orang lain
d. Memikliki perasaan yang positif tentang diri sendiri, sekolah dan keluarga
e. Memiliki kemampuan untuk mengatasi ketegangan jiwa (stress)
3. Memanfaatkan emosi secara produktif
a. Memiliki rasa tanggung jawab
b. Mampu memusatkan perhatian pada tugas yang dikerjakan
c. Mampu mengendalikan diri dan tidak bersifat impulsif
4. Empati
a. Mampu menerima sudut pandang orang lain
b. Memiliki sikap empati atau kepekaan terhadap perasaan orang lain
c. Mampu mendengarkanorang lain
5. Membina hubungan
a. Memiliki pemahaman dan kemampuan untuk menganalisis hubungan dengan orang lain
b. Dapat menyelesaikan konflik degan orang lain
c. Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan oarang lain
d. Memilki sikap bersahabat atau mudah bergaul dengan teman sebaya
e. Memiliki sikap tenggang rasa dan perhatian terhadap orang lain
f. Memperhatikan kepentingan sosial (senang menolong orang lain) dan dapat hidup
selaras dengan kelompok
g. Bersikap senang berbagi rasa dan bekerja sama
h. Bersikap demokratis dalam bergaul degan orang lain
Sumber: Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja

Pengaruh Emosi Terhadap Prilaku dan Perubahan Fisik Individu
Telah dikemukakan bahwa emosi merupakan warna efektif yang menyertai setiap keadaan atau perilaku individu. Yang dimaksud warna efektif ini adalah perasaan-perasaan tertentu yang dialami individu pada saat menghadapi (menghayati) suatu situasi tertentu. Contohnya seperti: gembira, bahagia, putus asa, terkejut,benci (tidak senang) dan sebagainya.Beberapa contoh tentang pengaruh emosi terhadap perilaku individu diantaranya:
1. Memperkuat semangat
Apabila orag merasa senang, atau puas atas hasil yang telah dicapai.
2. Melemahkan semangat, bila timbul rasa kecewa
Karena kegagalan dan sebagainya, puncak dari ini ialah timbulnya rasa putus asa
(frustrasi).
3. Menghambat atau mngganggu konsentrasi belajara
Bila sedang mengalami ketegangan emosi, dan bisa juga menimbulkan rasa
gugup(nervous) dan gagap dalam berbicara.
4. Teganggu penyesuaian sosial
Bila terjadi rasa cemburu dan iri hati.
5. Suasana emosional yang diterima atau dialami individu semasakecilnya akan
mempengaruhi sikapnya dikemudian hari,baik terhadap dirinya sendiri maupun
terhadap orang lain. Sedangkan pada fisik diantaranya:
JENIS EMOSI
1.Terpesona
2.Marah
3.Terkejut
4.Kecewa
5.Sakit/marah
6.Takut/tegang
7.Takut
8.tegang
PERUBAHAN FISIK
1.Reaksi elektrikpada kulit
2.Peredaran darah betambah cepat
3.Denyut jantung bertambah cepat
4.Bernafas panjang
5.Pupil mata membesar
6.Air liur mengering
7.Berdiri bulu roma
8.Terganggu pencernaan, otot-otot menegang atau bergetar (tremor)

Setiap emosi dalam bentuk apapun jika kita sudah mengetahui unsu-unsur kecerdasan emosional, dampak dan konsekuensinya, serta dapat mengelola emosional tersebut menjadi bahan bakar dan sepirit dalam menjalani hidup pasti akan tenang dan akan membawa kebahagian.

Referensi
Yusuf LN, Syamsu (2008) Perkembangan Psikologi Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosda.
Kurniawan Irwan Nuryana (2009) “Pengantar Psikologi Perkembangan” Department Indonesian Islamic Psychology, [Online]. Tersedia http://www.pengantarpsikologiperkembangan. [25 Oktober 2009]
Kid Radio, (2009) “Emosional adalah sesuatu hal yang ada pada setiap diri anak, jadi cara pengasuhan yang kurang memahami kecerdasan emosional anak akan menghambat salah satu tugas perkembangannya”. [On Air] [Sabtu 24 Oktober 2009]

PERILAKU SEKS BEBAS DI KALANGAN REMAJA

January 19, 2010

Dian Ramadhani
0901186
PPB-A/2009

PENDAHULUAN
Masa remaja adalah masa dimana seseorang harus menghadapi tekanan-tekanan emosi dan sosial yang saling bertentangan. Disatu sisi remaja mencoba melepaskan diri dari ketergantungan sebagai anak, tapi disisi lain belum berhasil membuktikan kemampuan mandiri sebagai orang dewasa. Masalah perilaku seksual paling sering terjadi pada kelompok usia remaja. Salah satu penyebab timbulnya masalah ini adalah adanya perubahan organobiologik akibat pematangn organ-prgan reproduksi.
Penelitian Sahabat Remaja dan data klien (1987- sekarang) tampak bahwa masalah terbesar remaja adalah seksualitas. Mulai dari masalah pacaran, perilaku seks, kehamilan tidak diinginkan, orientasi seksual, body image, dan mitos-mitos seks. Di masa remaja inilah ketika fungsi organ reproduksi dan sistem hormon mulai bekerja, secara alamiah remaja menjadi sangat ingin tahu tentang seks. Keingin tahuan mereka biasanya disalurkan melalui perbincangan dengan teman sebaya, mencari informasi dari sumber-sumber pornografi, dan lalu mempraktekkan dengan diri sendiri, pacar, teman, atau orang lain. Jarang sekali remaja melibatkan orangtua atau guru untuk mendiskusikan masalah seksualitas yang lebih dalam. Disinilah pentingnya pendidikan seks bagi para remaja. Hal ini untuk membantu mengurangi kecemasan remaja ketika menghadapi kematangan seksual serta sebagai penyalur pengetahuan seks bagi mereka.
Seringkali perilaku seksual remaja sekarang sangat mengkhawatirkan, karena dari gaya berpacaran mereka yang terkadang sudah tidak mengindahkan norma-norma yang berlaku. Karena melalui gaya berpacaran yang tidak sehat itu mereka menghalalkan untuk berhubungan seks diluar nikah. Ada kesan pada remaja, seks itu menyenangkan, puncak rasa kecintaan, yang serba membahagiakan sehingga tidak perlu ditakutkan. Berkembang pula opini seks adalah sesuatu yang menarik dan perlu dicoba. Terlebih lagi ketika para remaja telah berada pada lingkungan pergaulan bebas yang membuat mereka menjadi terjerumus dengan seks bebas.
50 persen dari 474 remaja yang dijadikan sample penelitian tentang perilaku seks bebas, mengaku telah melakukan hubungan seks tanpa nikah/seks bebas. (National Abortion Federation, 1999 ).
Dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Dari sekitar lima persen pada tahun 1980-an, menjadi duapuluh persen pada tahun 2000. ( Nugraha, 2000) .
Sekian banyak masalah seputar perilaku remaja yang dinilai menyimpang tersebut, ada tiga pertanyaan mendasar yang perlu segera dijawab, yaitu apa penyebab dan dampak perilaku seks bebas tersebut, serta bagaimana cara mengatasinya.

Pada masa remaja alat kelamin sekunder telah matang, sehingga terjadi perubahan fisik dan emosi. Hal ini termasuk kedalam teori perkembangan psikologi yang alami terjadi “pada setiap individu ketika beranjak menuju tingkat kedewasaan maka tanda-tanda fisik seperti karakter seks pada usia remaja baik yang primer maupun yang sekunder ikut berubah, begitu juga dengan tanda-tanda psikis yang ikut berubah seperti berkembangnya rasa ingin tahu terutama yang berhubungan dengan seks” (Tn.2008:16). Seksualitas pada masa remaja inilah yang sedang memuncak. Dimana ketika fungsi reproduksi mulai bekerja, secara alamiah remaja menjadi ingin tahu banyak tentang seks. Dan seringkali tindakan yang dilakukan remaja tidak dapat dikendalikan.

Pengertian Seksulitas
Seks merupakan tindakan hubungan badan antara laki-laki dan perempuan. Kontak badan antara yang berlawanan jenis bisa menimbulkan gairah seksual. Aktifitas seksual pada dasarnya adalah bagian dari naluri yang pemenuhannya sangat dipengaruhi stimulus dari luar tubuh manusia dan alam berfikirnya. ”Seksualitas seseorang atau individu dipengaruhi oleh banyak aspek dalam kehidupan, termasuk didalamnya prioritas, aspirasi, pilihan kontak sosial, hubungan interpersonal, self evaluation, ekspresi emosi, perasaan, karir dan persahabatan. Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat, baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis” (Wirawan, 2001).

Sebab-Sebab Timbulnya Perilaku Seks Bebas pada Remaja
Berkembangnya naruli seks akibat matangnya alat-alat kelamin sekunder, membuat pengetahuan remaja mengenai seks menjadi besar. Namun karena kurangnya informasi mengenai seks dari orangtua dan dari sekolah/lembaga formal membuat para remaja mencari informasi seks dari media massa yang tidak sesuai dengan norma-norma yang dianut seperti dari media cetak dan elektronika, teman sebaya, dan pergaulan sosial. “Sumber informasi yang paling besar bagi mereka adalah media massa 70%, peran orang tua kurang begitu menonjol 45%) sedangkan peran guru sebagai sumber informasi sebesar 62%” (Anton, 2004). Salah satu faktor lain yang mempengaruhi remaja untuk melakukan hubungan seks pranikah adalah membaca buku porno dan menonton blue film.
Menurut dr. H. Boyke Dian Nugraha, SpOG, MARS dalam seminarnya:
Salah satu perubahan terpenting dengan matangnya alat kelamin sekunder tadi mereka mulai tertarik kepada lawan jenisnya. Kenikmatan tentang cinta dan seks yang ditawarkan oleh berbagai informasi, baik berupa majalah, tayangan telenovela, film, internet yang mengakibatkan fantasi-fantasi seks mereka berkembang dengan cepat, dan bagi mereka yang tidak dibekali dengan nilai moral dan agama yang kukuh, fantasi-fantasi seks tersebut ingin disalurkan dan dibuktikan melalui perilaku seks bebas maupun perilaku seks pranikah saat mereka pacaran. Disinilah titik rawannya. Gairah seks yang memuncak pada pria terjadi pada usia 18-20 tahun, padahal diusia tersebut mereka masih bersekolah/kuliah sehingga tidak mungkin melakukan pernikahan. Akibatnya mereka menyalurkan gairah seks mereka yang tinggi dengan melakukan seks diluar nikah.
Penyebab seks bebas di kalangan remaja lainnya adalah faktor lingkungan, baik lingkungan keluarga maupun lingkungan pergaulan. Lingkungan keluarga yang dimaksud adalah cukup tidaknya pendidikan agama yang diberikan orangtua, cukup tidaknya kasih sayang dan perhatian yang diperoleh sang anak dari keluarganya, cukup tidaknya keteladanan yang diterima sang anak dari orangtuanya. Apabila tidak, maka anak akan mencari tempat pelarian di jalan-jalan serta di tempat-tempat yang tidak mendidik mereka. Anak akan dibesarkan di lingkungan yang tidak sehat bagi pertumbuhan jiwanya. Anak akan tumbuh di lingkungan pergaulan bebas.
Remaja masa kini yang mengaku dirinya anak gaul ditandai dengan nongkrong di kafe, mondar-mandir di mal, gaya fun, berpakaian serba sempit dan ketat yang memamerkan lekuk tubuh, dan mempertontonkan bagian tubuhnya yang seksi. Akibatnya, remaja anak gaul inilah yang biasanya menjadi korban dari pergaulan bebas, di antaranya terjebak dalam perilaku seks bebas.

Dampak Perilaku Seks Bebas pada Remaja
Seks bebas memiliki banyak konsekwensi misalnya, penyakit menular seksual,(PMS), selain juga infeksi, infertilitas dan kanker. Tidak heranlah makin banyak kasus kehamilan pranikah, pengguguran kandungan, dan penyakit kelamin maupun penyakit menular seksual di kalangan remaja (termasuk HIV/AIDS), terputusnya sekolah, perkawinan usia muda, perceraian, penyalahgunaan obat, merupakan akibat buruk petualangan cinta dan seks yang salah disaat remaja. Tidak jarang masa depan mereka yang penuh harapan hancur berantakan karena masalah cinta dan seks.
Makin banyak seseorang melakukan fantasi seks makin cenderung untuk melakukan aktifitas seks, sementara perasaan berdosa, mitos-mitos yang menakutkan, kehamilan yang tidak diinginkan, berbagai penyakit kelamin menghantui mereka. Akibatnya sering terjadi konflik di dalam jiwa mereka dan tentunya keadaan ini dapat mengganggu perkembangan intelektualitasnya. (Anton, Tn.2002).
Secara psikologis seks pra nikah memberikan dampak hilangnya harga diri, perasaan dihantui dosa, perasaan takut hamil, lemahnya ikatan kedua belah pihak yang menyebabkan kegagalan setelah menikah, serta penghinaan terhadap masyarakat atau akan sering menjadi cemoohan lingkungan sekitarnya.
Pakar seks juga specialis Obstetri dan Ginekologi Dr. Boyke Dian Nugraha menjelaskan bahwa:
Dari sisi kesehatan, perilaku seks bebas bisa menimbulkan berbagai gangguan. Diantaranya, terjadi kehamilan yang tidak di inginkan. Selain tentunya kecenderungan untuk aborsi, juga menjadi salah satu penyebab munculnya anak-anak yang tidak di inginkan. Keadaan ini juga bisa dijadikan bahan pertanyaan tentang kualitas anak tersebut, apabila ibunya sudah tidak menghendaki. Seks pranikah, juga bisa meningkatkan resiko kanker mulut rahim. Jika hubungan seks tersebut dilakukan sebelum usia 17 tahun, risiko terkena penyakit tersebut bisa mencapai empat hingga lima kali lipat.

Upaya untuk Menanggulangi Seks Bebas di Kalangan Remaja
Orangtua sebagai penanggung jawab utama terhadap perilaku anak, harus menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dalam keluarganya. Orang tua sejak usia dini harus menanamkan dasar yang kuat pada diri anak bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Jika konsep hidup yang benar telah tertanam maka remaja akan memahami jati dirinya, menyadari akan tugas dan tanggung jawabnya, mengerti hubungan dirinya dengan lingkungaanya. Kualitas akhlak akan terus terpupuk dengan memahami batas-batas nilai, komitmen dengan tanggung jawab bersama dalam masyarakat. Remaja akan merasa damai di rumah yang terbangun dari keterbukaan, cinta kasih, saling memahami di antara sesama keluarga. Pengawasan dan bimbingan dari orang tua dan pendidik akan menghindarkan dari pergaulan bebas. Orang tua harus terus mengawasi dan mengontrol perkembangan perilaku remaja.
Serta pendidikan seks harus diberikan sejak dini agar mereka sadar bagaimana menjaga supaya organ-organ reproduksinya tetap sehat. Sebenarnya dalam masalah reproduksi ini, peran orang tua dan guru diharapkan lebih menonjol karena bagaimanapun juga mereka juga berperan sebagai filter atau penyaring bagi informasi yang akan diberikan kepada remaja, berbeda bila informasi diperoleh dari media masa yang sering kali tanpa penyaringan terlebih dahulu. Dalam upaya pemberian informasi mengenai masalah reproduksi bagi remaja, khususnya di sekolah, perlu peran guru ditingkatkan. Untuk itu ingin diketahui seberapa jauh pengetahuan guru, khususnya guru bimbingan dan konseling. Diharapkan guru Bimbingan dan Konseling nantinya dapat berperan sebagai nara sumber di sekolah (tempat kerja) dan memberikan informasi yang benar mengenai hal-hal tersebut. Serta diadakan konseling seksualitas remaja.

KESIMPULAN
Perkembangan seksualitas pada intinya adalah hal yang alami. Seksualitas pada masa remaja inilah yang sedang memuncak. Dimana ketika fungsi reproduksi mulai bekerja, secara alamiah remaja menjadi ingin tahu banyak tentang seks. Dan seringkali tindakan yang dilakukan remaja tidak dapat dikendalikan. Pergaulan bebas pada usia remaja memang sangatlah rentan karena rasa ingin tahu yang besar kemudian memacu remaja untuk berperilaku tidak terpuji. Maka diperlukan bimbingan dan pengarahan dari orangtua dan juga guru agar tidak salah bergaul. Karena pengawasan dan kontrol,serta pendidikan dari orangtua sangat penting untuk pembentukan karakter dan perilaku remaja yang akan beranjak dewasa.
Remaja harus membentengi diri mereka dengan unsur agama yang kuat, juga dibentengi dengan pendampingan orang tua. Dan selektif dalam memilih teman-teman. Karena ada kecenderungan remaja lebih terbuka kepada teman dekatnya ketimbang dengan orang tua sendiri, kenyataannya pengaruh gaya seks bebas yang mereka terima jauh lebih kuat dari pada kontrol yang mereka terima maupun pembinaan secara keagamaan
Bagi guru terutama kepada guru Bimbingan dan Konseling diharapakan dapat membina para remaja tersebut menuju kemasa depan yang lebih cerah dengan mengadakan konseling seksualitas remaja. Konseling seksualitas remaja adalah proses pemberian bantuan dari konselor kepada seorang klien atau sekelompok orang yang memiliki masalah seksualitas dan kesehatan reproduksi sesuai dengan umur dan permasalahan, perkembangan fisik dan mental pada masa pubertas, misalnya masalah seputar pacaran, perilaku seks, kesehatan reproduksi secara umum, body image, masalah dalam kehidupan perkawinan, HIV/AIDS, penyakit menular seksual dan kehamilan tidak diinginkan.

REFERENSI

• Yusuf, Syamsu. 2008. Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung: Rosda.
• . “Mengatasi Perilaku Seks Bebas”. [online]. Tersedia: http://www.acehforum.or.id/. [ 26 oktober 2009].
• Nugraha, Boyke. “Seminar Seks”. [online]. Tersedia: http://www.solusisehat.net. [27 oktober 2009].
• Wirawan. “Psikologi Seks”. [online]. Tersedia: http://duniapsikologi.dagdigdug.com. [26 oktober 2009].
• Anton. “Pendidikan Kesehatan Reproduksi”. [online]. Tersedia: http://www.antonbahagia.com. [12 oktober 2009].

KEPRIBADIAN GANDA

January 19, 2010

Yani Handayani
PPB-A/2009
0901399

Tubuh sebagai dasar utama dalam kehidupan, maka segala analisa dan pemecahan masalah yang timbul selalu dimulai dari penelitian fungsi organ-organ di dalam tubuh. Walaupun pengetahuan ilmiah telah berkembang dengan cepat tetapi para ahli ilmiah masih mengakui adanya pengaruh unsur diluar tubuh seperti pikiran, kepribadian, karakter, sifat-sifat, pembawaan. Manusia adalah makhluk yang unik tidak ada yang mempunyai kepribadian sama persis, meskipun anak yang terlahir kembar identik.
“Kepribadian berasal dari bahasa latin : persona yaitu satu istilah yang mengacu pada gambaran sosial tertentu yang diterima oleh individu dari kelompok atau masyarakatnya, individu tersebut diharapkan bertingkah laku berdasarkan  atau sesuai dengan gambaran sosial yang diterimanya.” (Koswara, 1991:10).
Gordon Allport, merumuskan kepribadian adalah “Organisasi dinamis sistem psikofisik dalam diri individu yang menentukan karakteristik perilaku dan pikirannya.”
Ada dua jenis kepribadian yaitu kepribadian sehat dan kepribadian kurang sehat. Kepribadian sehat merupakan dambaan tiap individu karena tidak ada seorangpun ingin dikatakan sakit kepribadiannya. Adapun karena faktor-faktor tertentu individu menjadi pribadi yang kurang sehat, salah satu kepribadian yang tidak sehat yaitu kepribadian ganda. Mungkin sebagian dari kita ada yang masih bingung tentang kepribadian ganda, bahkan mungkin ada yang sama sekali belum mengetahui tentang kepribadian ganda, maka disini akan dibahas mengenai kepribadian ganda.

Apa itu Kepribadian Ganda?

Manusia terdiri dari tiga system psikologis, diantaranya adalah ID, EGO, dan SUPEREGO. ID merupakan dorongan-dorongan, hasrat, dan semacamnya. Superego merupakan nilai-nilai, norma, dan aturan yang berlaku dan dipahami. Sedangkan ego adalah kontrol diri seseorang dalam menghadapi masalah. Dari ketiga sistem tersebut, kepribadian ganda dapat muncul jika ego yang dimiliki seseorang telah rusak. Suatu waktu , seseorang yang ego-nya telah rusak tidak sadar akan posisinya pada waktu tertentu.
Kepribadian ganda pertama dikenali sekitar abad ke19 dalam sebuah review literatur, Sutcliffe dan Jones mengidentifikasi 77 kasus, dan rata-rata terlapor dalam periode antara 1890-1920. Setelah itu, laporan tentang kasus pribadi ganda ini menurun sampai tahun 1970 yang kemudian meningkat lagi. Pemecahan kepribadian atau sering juga disebut kepribadian ganda, atau juga lebih terkenal dengan nama alter ego merupakan suatu keadaan dimana kepribadian individu terpecah sehingga muncul kepribadian yang lain.
Menurut Issaquah kepribadian ganda dalah kepribadian seseorang yang berusaha menghibur diri sendiri dengan menciptakan kepribadian lain yang dapat menampung semua perasaannya. Kepribadian itu biasanya merupakan ekspresi dari kepribadian utama yang muncul karena pribadi utama tidak dapat mewujudkan hal yang ingin dilakukannya. Dalam bahasa yang lebih sederhana dapat dikatakan bahwa ada satu orang yang memiliki pribadi lebih dari satu atau beberapa pribadi sekaligus. Kadang penderita tidak menyadari bahwa dirinya berkepribadian ganda, dua atau beberapa pribadi yang ada dalam satu tubuh ini juga tidak saling mengenal dan lebih parah lagi beberapa kepribadian ini saling bertolak belakang.

Penyebab Kepribadian Ganda

Kepribadian ganda dapat disebabkan oleh peristiwa traumatik yang dialami oleh seseorang pada usia kanak-kanak, biasanya antara 4-6 tahun. Trauma itu bisa disebabkan oleh kekerasan fisik atau seksual yang parah (abuse). kekerasan ini menyebabkan terpisahnya dan terbentuknya alter sebagai pelarian dari trauma. tapi berhubung tidak semua orang yang mengalami kekerasan semasa kecil menderita pribadi ganda, maka kemudian dikatakan bahwa mungkin ada hal lain yang hadir di antara mereka yang menderita pribadi ganda, ada satu ide yang mengatakan bahwa tingginya hypnotizability (mudahnya seseorang dihipnotis berarti orang itu mempunyai tingkat sugesti yang tinggi) mempermudah pembentukan alters melalui self-hypnosis. Ide lain adalah, orang yang menderita pribadi ganda sangat mudah atau cenderung terlibat dalam fantasi.
Menurut Universitas Kedokteran Hanover di Jerman, bermain game di internet secara berlebihan dengan menggunakan personalitas rekaan dapat menyebabkan gangguan kepribadian ganda. Jadi pribadi ganda sebenarnya bukan merupakan sifat fitrah manusia karena penyakit pribadi ganda disebabkan oleh faktor luar diri manusia.

Contoh Kasus

Sebuah Universitas di Jeman meneliti seorang pasien wanita yang telah bermain games di internet selama beberapa jam sehari dengan periode lebih dari tiga bulan dan menggunakan berbagai personalitas dari sejumlah tokoh-tokoh rekaan secara lambat laun mengambil alih personalitas yang telah diabaikan. Pasien tersebut kehilangan kendali atas identitas dan kehidupan sosial miliknya sendiri, kata Bert de Wildt dari Universitas itu seperti dilaporkan DPA dalam psikoanalisis para ahli terapi menemukan pasien wanita itu telah berkembang menjadi berkepribadian ganda.
Adapun seseorang yang bernama Billy, nama aslinya William Stanley Milligan dia memiliki 24 kepribadian, dia adalah orang pertama dalam sejarah Amerika yang dianggap tidak bersalah atas berbagai tindak kriminal serius dengan alasan tidak waras, karena dia memiliki kepribadian majemuk. Dia tidak pernah ingat tindak kriminal yang dilakukannya. Orang lain melihat fakta-faktanya memang dia yang melakukan, tetapi Billy tidak pernah ingat dan tidak pernah merasa.

Usaha Penanganan Pribadi Ganda

Kepribadian ganda biasanya bermula dari saat kecil, tapi jarang ter-diagnosa sampai saat dewasa. Penyakit ini jauh lebih rumit dibandingkan penyakit kepribadian yang lain, dan kadang tidak bisa disembuhkan secara total. Penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Cukup sering penyakit ini disertai penyakit lain, misalnya depression, borderline personality disorder, dan samatization disorder. Penderita juga biasanya mengalami sakit kepala, substance abuse, fobia, halusinasi, percobaan bunuh diri, begitu juga dengan gejala dissociative lainnya seperti amnesia dan depersonalization.
Orang di sekitar penderita kepribadian ganda dibuat bingung oleh tingkah laku si penderita yang selalu berubah-ubah. Pada akhir kasusnya, penderita kepribadian ganda bisa disatukan kembali menjadi satu kepribadian yang utuh meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama, dengan dibantu oleh seorang psikiater handal.
Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasinya yaitu:
1. Kuatkan niat untuk mempunyai kepribadian utuh
2. Introspeksi diri dengan memilih dan memilah kepribadian mana yang baik
3. Cobalah sedikit demi sedikit mengurangi kebiasaan buruk
4. Teratur berkonsultasi dengan psikiater
5. Santai dan yakinlah bahwa kepribadian utama adalah kepribadian baik

Kesimpulan

Keribadian ganda adalah suatu penyakit kelainan kepribadian yang tidak sehat namun tidak dapat dikatakan gila sebab orang yang berkepribadian ganda masih bisa berfikir logis dan masih sadar akan lingkungannya. Penderita tidak dapat mengontrol dirinya karena ada kepribadian lain yang ada dalam dirinya yang bisa tiba-tiba muncul dan tidak disadari oleh pribadi utamanya. Kasus kepribadian ganda saat ini tengah diteliti oleh para ahli. Orang yang berkepribadian ganda ada yang dapat disembuhkan dan adapula yang tidak, itu tergantung dari faktor internal dan eksternal penderita, bila penderita berkeinginan kuat untuk berubah dan lingkungan mendukung bias saja penderita sembuh total dan menjadi normal kembali. Berhati-hatilah karena orang yang berkepribadian ganda sering tidak sadar bahwa dirinya menginap penyakit tersebut, bisa saja kejadian ini ada disekitar kita.

Referensi

Welldan, 2008. “Kepribadian Ganda”. [online]. Tersedia : http://welldan.web.ugm.ac,id. [27 Oktober 2009]
Sujanto,dkk. 2006. “ Psikologi Kepribadian”. Jakarta: Bumi Aksara
Koeswara, E. 1991. “Teori-teori Kepribadian”. Bandung: Eresco

KEHORMATAN EMOSIONAL

January 18, 2010

oleh

Muhammad Muhajirin
0901353
Mahasiswa PPB A
2009

Artikel ini melakukan analisis terhadap salah satu aspek yang dimiliki oleh setiap makhluk hidup. Dalam analisa ini yang di maksud dengan makhluk hidup ialah manusia dan binatang.

Canon telah mengadakan penelitian dengan sorotan sinar “rontgen” terhadap seekor kucing yang baru selesai makan. Ia melihat bahwa perut besarnya aktif melakukan gerakan yang teratur untuk mencerna makanan. Kemudian dibawa ke depannya seekor anjing yang besar dan buas/galak. Pada saat itu, Canon melihat bahwa proses mencerna terhenti seketika, dan pembulu darah di bagian lambung mengkerut, disamping itu tekanan darahnya bertambah dengan sangat tinggi, ditambah lagi dengan perubahan yang bermacam-macam “pada kelenjar-kelenjar seperti bertambahnya keringat dan air liur”.

Berdasarkan percobaan tersebut jadi emosional dapat membawa pada perubahan fisik. Pada manusia pengaruh emosional ini dapat membawa dampak yang positif dan negatif. Membawa dampak positif jika dapat mengatur dan mengendalikannya, sebaliknya jika tidak dapat mengendalikan emosi tersebut, tidak jarang membawa malapetaka dalam kehidupan ini. Mulai dari konflik batin, konflik horizontal, penyakit hati, penyakit fisik, hingga menyebabkan kematian.

Apa yang dimaksud dengan emosi?
Menurut English And English, emosi adalah “a complex feeling state accompained by characteristic motor and glandular activies” (Suatu keadaan perasaan yang kompleks yang disertai karakteristik kegiatan kelenjar dan motoris). Sedangkan Sarlito Wirawan Sarwono berpendapat bahwa emosi merupakan “Setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pada tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang luas (mendalam).

Canon Bard merumuskan teori tentang pengaruh fisiologis terhadap emosi. Teori ini menyatakan bahwa situasi menimbulkan rangkaian pada proses syaraf. Suatu situasi yang saling mempengaruhi antara thalamus (pusat penghubung antara bagian bawah otak dengan susunan uarat syaraf di satu pihak dan alat keseimbangan) atau Cerebellum dengan Creblar cortex (bagian otak yang terletak di dekat permukaan sebelah dalam dari tulang tengkorak, suatu bagian yang berhubungan dengan proses kerjanya pada jiwa taraf tinggi, seperti berfikir).

Jadi dapat disimpulkan Emosi adalah suatu keadaan perasaan yang menimbulkan rangkaian situasi pada proses syaraf disertai warna afektif yeng di interpretasikan melalui perbuatan atau prilaku yang baik atau buruk menurut aturan atau norma-norma yang ada. Cerminan prilaku tersebut yang dimaksudkan Kehormatan Emosional. Kehormatan Emosi ini menitik beratkan kepada pentingnya pengaturan atau pengendalian emosi yang sering disebut dengan “Kecerdasan Emosional”.
Kecerdasan emosional Emotional Intelligence ini merupakan pandangan baru tentang salah satu faktor yang menyebabkan orang bisa meraih kesuksesan, selain kecerdasan inteligensi dalam ukuran kemampuan intelektual atau tataran kognitif. Pendapat itu dikemukakan oleh Daniel Goleman. Kecerdasan emosional ini semakin dipandang perlu dan merupakan suatu keharusan dipahami, dimiliki dan diperhatikan dalam perkembangannya. Hal ini mengingat masalah-masalah yang dihadapi semakin kompleks dan sangat menuntut pengaturan atau pengendalian emosi.
Kecerdasan emosional ini merujuk kepada kemampuan-kemampuan mengendalikan diri, memotivasi diri dan berempati. Tiada lain hal ini di lakukan untuk ketenangan hati dan dampak positif yang akan membawa pada kebahagiaan dalam kehidupan ini.
Ada bebebrapa jenis-jenis emosi dan dampaknya pada perubahan fisik, diantaranya:
a. Terpesona, peristiwa ini terjadi karena ada stimulus yang datang, stimulus itu biasanya berasal dari penglihatan yang indah contohnya keindahan alam. Dampak perubahan fisiknya yaitu reaksi elektris pada kulit.
b. Marah, penyebab kegiatan ini sangat kompleks. Efek yang ditimbulkan peredaran darah bertambah cepat dan tekanan bertambah tinggi, hal ini yang sering menyebabkan penyakit struk yang banyak menyerang pada masa sekarang ini. Perubahan pada fisiknya yaitu muka merah, prilaku tak terkontrol dan sebagainya.
c. Terkejut, peristiwa itu terjadi karena ada stimulus yang diketahui secara mendadak. Perubahan pada fisik yaitu denyut jantung bertambah cepat.
d. Kecewa, perasaan ini muncul ketika apa yang kita kehendaki itu belum tercapai. perubahan pada fisik, biasanya bernafas panjang.
e. Sakit, rasa ini timbul karena ada bagian dari tubuh kita yang terasa sakit secara fisik. Perubahan fisiknya bisa pucat, lemah, meringis, dan ada pula yang meronta-ronta.
f. Takut/tegang, rasa tersebut timbul akibat ada sesuatu hal yang sangat ditakutinya (hal yang nyata). Misalkan ketika bertemu dengan musuh. Perubahan fisik yang dapat di lihat biasanya air liur mengering.
g. Takut, takut disini karena perasaanya sendiri, takut karena hal yang tak nyata. Misalnya takut kepada hantu. Perubahan yang dapat dilihat secara fisik yaitu berdiri bulu roma.
h. Tegang, tegang disini terjadi akibat rasa kekawatiran ketidakmampuan untuk melakukan sesuatu, misalnya kondisi ketika ujian dan tidak dapat menjawab seluruh pertanyaan-pertanyaan disana akan terlihat ketegangan tersebut. Perubahan pada fisik yang dapat dilihat terganggunya pencernaan, otot-otot menegang atau bergetar (tremor).

Unsur-unsur Kecerdasan Emosional
ASPEK KARAKTERISTIK PERILAKU
1. Kesadaran Diri a. Mengenal dan merasakan emosi sendiri
b. Memahami penyebab perasaan yang timbul
c. Mengenal pengaruh perasaan terhadap tindakan
2. Mengola Emosi a. Bersikap toleran terhadap frustasi dan mampu mengolah amarah secara lebih baik
b. Lebih mampu mengungkapkan amarah dengan tepat tanpa berkelahi
c. Dapat mengendalikan perilaku agresif yang merusak diri sendiri dan orang lain
d. Memikliki perasaan yang positif tentang diri sendiri, sekolah dan keluarga
e. Memiliki kemampuan untuk mengatasi ketegangan jiwa (stress)
3. Memanfaatkan emosi secara produktif a. Memiliki rasa tanggung jawab
b. Mampu memusatkan perhatian pada tugas yang dikerjakan
c. Mampu mengendalikan diri dan tidak bersifat impulsif
4. Empati a. Mampu menerima sudut pandang orang lain
b. Memiliki sikap empati atau kepekaan terhadap perasaan orang lain
c. Mampu mendengarkanorang lain
5. Membina hubungan a. Memiliki pemahaman dan kemampuan untuk menganalisis hubungan dengan orang lain
b. Dapat menyelesaikan konflik degan orang lain
c. Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan oarang lain
d. Memilki sikap bersahabat atau mudah bergaul dengan teman sebaya
e. Memiliki sikap tenggang rasa dan perhatian terhadap orang lain
f. Memperhatikan kepentingan sosial (senang menolong orang lain) dan dapat hidup selaras dengan kelompok
g. Bersikap senang berbagi rasa dan bekerja sama
h. Bersikap demokratis dalam bergaul degan orang lain
Sumber: Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja

PERILAKU KONSUMTIF PADA REMAJA

January 18, 2010

Nama:Elis Ajizah
0900367
Suci Sundusiah M.pd

Setiap orang memiliki kebutuhan hidupnya masing-masing. Kebutuhan itu berusaha untuk dipenuhinya dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang memenuhi kebutuhannya secara wajar dan ada juga yang berlebihan dalam pemenuhan kebutuhannya. Hal tersebut menyebabkan orang-orang untuk berperilaku konsumtif. Perilaku konsumtif seperti ini terjadi pada hampir semua lapisan masyarakat. Tidak hanya pada orang dewasa, perilaku konsumtif pun banyak melanda para remaja.
Remaja memang sering dijadikan target pemasaran berbagai produk industri, antara lain karena karakteristik mereka yang labil, spesifik dan mudah dipengaruhi sehingga akhirnya mendorong munculnya berbagai gejala dalam perilaku membeli yang tidak wajar. Membeli tidak lagi dilakukan karena produk tersebut memang dibutuhkan, namun membeli dilakukan karena alasan-alasan lain seperti sekedar mengikuti mode, hanya ingin mencoba produk baru, ingin memperoleh pengakuan sosial dan sebagainya.
Remaja merupakan obyek yang menarik untuk diminati oleh para ahli pemasaran. Kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial bagi produsen karena remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya, lebih mudah terpengaruh teman sebaya dalam hal berperilaku dan biasanya lebih mementingkan gengsinya untuk membeli barang-barang bermerk agar mereka dianggap tidak ketinggalan zaman.
Perilaku konsumtif remaja terhadap barang-barang bermerk menarik untuk diteliti mengingat remaja sebenarnya belum memiliki kemampuan finansial untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu, hal tersebut menarik untuk diangkat menjadi topik pembahasan dalam artikel karya ilmiah ini

PERILAKU KONSUMTIF REMAJA TERHADAP
BARANG-BARANG BERMERK

A.    PERILAKU KONSUMTIF
James F. Engel (dalam Mangkunegara, 2002: 3) ”mengemukakan bahwa perilaku konsumtif dapat didefinisikan sebagai tindakan-tindakan individu yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh dan menggunakan barang-barang jasa ekonomis termasuk proses pengambilan keputusan yang mendahului dan menentukan tindakan-tindakan tersebut.
Perilaku konsumtif bisa dilakukan oleh siapa saja. Fromm Pendapat di atas berarti bahwa perilaku membeli yang berlebihan tidak lagi mencerminkan usaha manusia untuk memanfaatkan uang secara ekonomis namun perilaku konsumtif dijadikan sebagai suatu sarana untuk menghadirkan diri dengan cara yang kurang tepat. Perilaku tersebut menggambarkan sesuatu yang tidak rasional dan bersifat kompulsif sehingga secara ekonomis menimbulkan pemborosan dan inefisiensi biaya. Sedangkan secara psikologis menimbulkan kecemasan dan rasa tidak aman.Konsumen dalam membeli suatu produk bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan semata-mata, tetapi juga keinginan untuk memuaskan kesenangan. Keinginan tersebut seringkali mendorong seseorang untuk membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Hal ini dapat dilihat dari pembelian produk oleh konsumen yang bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan semata tetapi juga keinginan untuk meniru orang lain yaitu agar mereka tidak berbeda dengan
anggota kelompoknya atau bahkan untuk menjaga gengsi agar tidak ketinggalan jaman.
Keputusan pembelian yang didominasi oleh faktor emosi menyebabkan timbulnya perilaku konsumtif. Hal ini dapat dibuktikan dalam perilaku konsumtif yaitu perilaku membeli sesuatu yang belum tentu menjadi kebutuhannya serta bukan menjadi prioritas utama dan menimbulkan pemborosan.
Hal-hal yang Berkaitan dengan Perilaku Konsumtif
Konsumtif menjelaskan keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal.
Berdasarkan definisi di atas, maka dalam perilaku konsumtif Tambunan (2001) berpendapat ada dua aspek mendasar, yaitu :
1)    Adanya suatu keinginan mengkonsumsi secara berlebihan.
2)    Pemborosan. Perilaku konsumtif yang memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produknya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok. Perilaku ini hanya berdasarkan pada keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal.
3)    Inefisiensi Biaya. Pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja yang biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya sehingga menimbulkan inefisiensi biaya.
1.    Pengenalan kebutuhan
Pengambilan keputusan membeli barang dengan mempertimbangkan banyak hal seperti faktor harga, faktor kualitas, faktor manfaat, dan faktor merk. 2.Emosional
Motif pembelian barang berkaitan dengan emosi seseorang. Biasanya konsumen membeli barang hanya karena pertimbangan kesenangan indera atau bisa juga karena ikut-ikutan.
Berdasarkan pengertian yang telah dikemukakan bahwa aspek-aspek perilaku konsumtif yang dikemukakan Tambunan (2001) lebih bersifat penjelasan terhadap keinginan seseorang dalam melakukan pembelian terhadap barang-barang kebutuhan, sehingga peneliti cenderung menggunakan aspek dari Tambunan yaitu keinginan untuk mengkonsumsi secara berlebihan dan perilaku yang bertujuan untuk mencapai kepuasan semata guna penyusunan skala.

B.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumtif Remaja
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif ada dua, yaitu internal dan eksternal :
a.    Faktor Internal. Faktor internal ini juga terdiri dari dua aspek, yaitu faktor psikologis dan faktor pribadi.
a)    Faktor psikologis, juga sangat mempengaruhi seseorang dalam bergaya hidup konsumtif
b)    Motivasi, dapat mendorong karena dengan motivasi tinggi untuk membeli suatu produk, barang / jasa maka mereka cenderung akan membeli tanpa menggunakan faktor rasionalnya.
c)    Persepsi, berhubungan erat dengan motivasi. Dengan persepsi yang baik maka motivasi untuk bertindak akan tinggi, dan ini menyebabkan orang tersebut bertindak secara rasional.
d)    Sikap pendirian dan kepercayaan. Melalui bertindak dan belajar orang akan memperoleh kepercayaan dan pendirian. Dengan kepercayaan pada penjual yang berlebihan dan dengan pendirian yang tidak stabil dapat menyebabkan terjadinya perilaku konsumtif.
b.    Faktor Eksternal / Lingkungan. Perilaku konsumtif dipengaruhi oleh lingkungan di mana ia dilahirkan dan dibesarkan. Variabel-variabel yang termasuk dalam faktor eksternal dan mempengaruhi perilaku konsumtif adalah kebudayaan, kelas sosial, kelompok sosial, dan keluarga.
Upaya Bimbingan dan Konseling dalam Menanggulangi Masalah Perilaku Konsumtif Remaja Terhadap Barang-Barang Bermerk

Perilaku konsumtif remaja terhadap barang-barang bermerk banyak tumbuh pada remaja yang besar dan tumbuh di kota-kota besar sehingga mereka menjadikan mall sebagai rumah keduanya. Seperti contoh kasus di atas. Salah satu alasanya, mereka ingin menunjukkan diri bahwa mereka juga dapat mengikuti mode yang sedang beredar. Padahal mode itu sendiri selalu berubah, sehingga para remaja tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya.
dalam peniruan ini. Hal ini menyebabkan banyak orang tua yang mengeluh saat anaknya mulai memasuki dunia remaja. Salah satu penyebab timbulnya keluhan orangtua, karena sebagian perilaku remaja menimbulkan masalah ekonomi pada keluarganya.
Dengan banyaknya dampak negatif akibat perilaku konsumtif ini, maka upaya bimbingan dan konseling diperlukan dalam menanggulangi perilaku konsumtif. Bimbingan dan konseling dapat melakukan upaya kuratif, karena apabila perilaku konsumtif tersebut dibiarkan maka akan terus mengakar di dalam gaya hidup dan akan berlanjut sampai dewasa. Dampak negatif akan lebih besar terjadi apabila pencapaian finansial didapatkan melalui segala macam cara yang tidak sehat. Teknik yang digunakan adalah konseling individual melalui interaksi yang berkelanjutan antara konselor dan konseli sehingga mengkontrol dirinya dan perilaku konsumtif remaja tersebut dapat disembuhkan.

DAFTAR PUSTAKA

Hurlock, E.B.1999. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Alih bahasa : Istiwidayanti. Jakarta : Erlangga.
Mangkunegara, Anwar Prabu. 2002. Perilaku Konsumen. Bandung : PT. Refika Aditama.

Kotler, P. 2000. Manajemen Pemasaran di Indonesia. Jilid 1. Jakarta: Salemba Empat.

Swastha, B. H. D. 1998. Manajemen Pemasaran: Analisa Perilaku Konsumen. Yogyakarta: Liberty.

Tambunan, R. 2001. Remaja dan Perilaku Konsumtif. Jurnal Psikologi dan Masyarakat. [Online]. Tersedia: http//:www.e-psikologi.com/remaja/191101.htm. (29 September 2009).

REMAJA PUNYA MASALAH, NO PROBLEM !

January 18, 2010

Jihan Noor Zsaqiah*)

BAB I PENDAHULUAN Selama rentang kehidupan manusia, telah terjadi banyak pertumbuhan dan perkembangan dari mulai lahir sampai dengan meninggal dunia. Dari semua fase perkembangan manusia tersebut, salah satu yang paling penting dan paling menjadi pusat perhatian adalah masa remaja. Para orang tua, pendidik dan para tenaga profesional lainnya mencoba untuk menerangkan dan melakukan pendekatan yang efektif untuk menangani para remaja ini. Lalu ada apakah di masa remaja ini? Seberapa besarkah pentingnya untuk menangani masa remaja dan seberapa besar pengaruhnya untuk kehidupan dimasa depan individu tersebut? Masa remaja yang dimaksudkan merupakan periode transisi antara masa anakanak dan masa dewasa. Batasan usianya tidak ditentukan dengan jelas, sehingga banyak ahli yang berbeda dalam penentuan rentang usianya. Namun, secara umum dapat dikatakan bahwa masa remaja berawal dari usia 12 sampai dengan akhir usia belasan ketika pertumbuhan fisik hampir lengkap. Salah satu pakar psikologi perkembangan Elizabeth B. Hurlock (1980) menyatakan bahwa masa remaja ini dimulai pada saat anak mulai matang secara seksual dan berakhir pada saat ia mencapai usia dewasa secara hukum. Masa remaja terbagi menjadi dua yaitu masa remaja awal dan masa remaja akhir. Masa remaja awal dimulai pada saat anak-anak mulai matang secara seksual yaitu pada usia 13 sampai dengan 17 tahun, sedangkan masa remaja akhir meliputi periode setelahnya sampai dengan 18 tahun, yaitu usia dimana seseorang dinyatakan dewasa secara hukum. Banyaknya permasalahan dan krisis yang terjadi pada masa remaja ini menjadikan banyak ahli dalam bidang psikologi perkembangan menyebutnya sebagaimasa krisis. Pada masa ini perubahan terjadi sangat drastis dan mengakibatkan terjadinya kondisi yang serba tanggung dan diwarnai oleh kondisi psikis yang belum mantap, selain dari pada itu periode ini pun dinilai sangat penting bahkan Erik Erikson (1998) menyatakan bahwa seluruh masa depan individu sangat tergantung pada penyelesaian krisis pada masa ini. *) Mahasiswi PPB kelas A NIM (0901062) BAB II PEMBAHASAN Sebagai periode yang paling penting, masa remaja ini memiliki karakterisitik yang khas jika dibanding dengan periode-periode perkembangan lainnya. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut : a. Masa remaja adalah periode yang penting Periode ini dianggap sebagai masa penting karena memiliki dampak langsung dan dampak jangka panjang dari apa yang terjadi pada masa ini. Selain itu, periode ini pun memiliki dampak penting terhadap perkembangan fisik dan psikologis individu, dimana terjadi perkembangan fisik dan psikologis yang cepat dan penting. Kondisi inilah yang menuntut individu untuk bisa menyesuaikan diri secara mental dan melihat pentingnya menetapkan suatu sikap, nilai-nilai dan minta yang baru. b. Masa remaja adalah masa peralihan Periode ini menuntut seorang anak untuk meninggalkan sifat-sifat kekanakkanakannya dan harus mempelajari pola-pola perilaku dan sikap-sikap baru untuk menggantikan dan meninggalkan pola-pola perilaku sebelumnya. Selama peralihan dalam periode ini, seringkali seseorang merasa bingung dan tidak jelas mengenai peran yang dituntut oleh lingkungan. Misalnya, pada saat individu menampilkan perilaku anak-anak maka mereka akan diminta untuk berperilaku sesuai dengan usianya, namun pada kebalikannya jika individu mencoba untuk berperilaku seperti orang dewasa sering dikatakan bahwa mereka berperilaku terlalu dewasa untuk usianya. b. Masa remaja adalah periode perubahan Perubahan yang terjadi pada periode ini berlangsung secara cepat, peubahan fisik yang cepat membawa konsekuensi terjadinya perubahan sikap dan perilaku yang juga cepat. Terdapat lima karakteristik perubahan yang khas dalam periode ini yaitu, (1) peningkatan emosionalitas, (2) perubahan cepat yang menyertai kematangan seksual, (3) perubahan tubuh, minat dan peran yang dituntut oleh lingkungan yang menimbulkan masalah baru, (4) karena perubahan minat dan pola perilaku maka terjadi pula perubahan nilai, dan (5) kebanyakan remaja merasa ambivalent terhadap perubahan yang terjadi. c. Masa remaja adalah masa pencarian identitas diri Pada periode ini, konformitas terhadap kelompok sebaya memiliki peran penting bagi remaja. Mereka mencoba mencari identitas diri dengan berpakaian, berbicara dan berperilaku sebisa mungkin sama dengan kelompoknya. Salah satu cara remaja untuk meyakinkan dirinya yaitu dengan menggunakan simbol status, seperti mobil, pakaian dan benda-benda lainnya yang dapat dilihat oleh orang lain. Beberapa transisi yang dihadapi pada masa remaja 1. Transisi dalam emosi Ciri utama remaja adalah peningkatan kehidupan emosinya, dalam arti sangat peka, mudah tersinggung perasaannya. Remaja dikatakan berhasil melalui masa transisi emosi apabila ia berhasil mengendalikan diri dan mengekspresikan emosi sesuai dengan kelaziman pada lingkungan sosialnya tanpa mengabaikan keperluan dirinya. 2. Transisi dalam sosialisasi Pada masa remaja hal yang penting dalam proses sosialisasinya adalah hubungan dengan teman sebaya , baik sejenis maupun lawan jenis. 3. Transisi dalam agama Sering terjadi remaja yang kurang rajin melaksanakan ibadah seperti pada masa kanak-kanak. Hal tersebut bukan karena melunturnya kepercayaan terhadap agama, tetapi timbul keraguan remaja terhadap agama yang dianutnya sebagai akibat perkembangan berfikirnya yang mulai kritis. 4. Transisi dalam hubungan keluarga Dalam satu keluarga yang terdapat anak remaja, sulit terjadi hubungan yang harmonis dalam keluarga tersebut. Keadaan ini disebabkan remaja yang banyak menentang orang tua dan biasanya cepat menjadi marah. Sedangkan orang tua biasanya kurang memahami ciri tersebut sebagai ciri yang wajar pada remaja. 5. Transisi dalam moralitas Pada masa remaja terjadi peralihan moralitas dari moralitas anak ke moralitas remaja yang meliputi perubahan sikap dan nilai-nilai yang mendasari pembentukan konsep moralnya. Sehingga sesuai dengan moralitas dewasa serta mampu mengendalikan tingkah lakunya sendiri Beberapa faktor yang menjadi masalah pada remaja 1. Adanya perubahan-perubahan biologis dan psikologis yang sangat pesat pada masa remaja yang akan memberikan dorongan tertentu yang sifatnya sangat kompleks 2. Orangtua dan pendidik kurang siap untuk memberikan informasi yang benar dan tepat waktu, karena ketidaktahuannya. 3. Perbaikan gizi yang menyebabkan menais menjadi lebih dini. Banyaknya kejadian kawin muda terutama didaerah pedesaan. Sebaiknya di kota, kesempatan untuk bersekolah dan bekerja menjadi lebih terbuka bagi wanita dan usia kawin makin bertambah. Kesenjangan antara menais dan umur kawin yang panjang, apalagi dalam suasana pergaulan yang makin bebas tidak jarang menimbulkan masalah bagi remaja. 4. Membaiknya sarana komunikasi dan transportasi akibat kemajuan teknologi menyebabkan membanjirkan arus informasi dari luar yang sulit sekali diseleksi. 5. Pembangunan kearah industrialisasi disertai dengan pertambahan penduduk menyebabkan maningkatnya urbanisasi, berkurangnya sumber daya alam dan terjadinya perubahan tata nilai. Ketimpangan sosial dan individualisme sering kali memicu terjadinya perubahan konflik perorangan maupun kelompok lapangan kerja yang kurang memadai dapat memberikan dampak yang kurang baik bagi remaja sehingga remaja akan menderita frustasi dan depresi yang akan menyebabkan mereka mengambil jalan pintas dengan tindakan yang bersifat negatif. 6. Kurangnya pemanfaatan penggunaan sarana untuk menyalurkan gejolak remaja. Perlu adanya penyaluran sebagai subtitusi yang bersifat positif kearah pengembangan keterampilan yang mengandung unsur kecepatan dan kekuatan, misalnya olahraga. BAB III PENUTUP 1. KESIMPULAN Masa remaja sebagai periode perkembangan yang paling penting bagi individu pada kenyataannya merupakan suatu periode yang sarat dengan perubahan dan rentan munculnya masalah. Meskipun demikian adanya pemahaman yang baik serta penanganan yang tepat terhadap remaja merupakan faktor penting bagi keberhasilan remaja di kehidupan selanjutnya, mengingat masa ini merupakan masa yang paling menentukan. Selain itu perlu adanya kerjasama dari remaja itu sendiri, orang tua, guru dan pihak-pihak lain yang terkait agar perkembangan remaja di bidang pendidikan dan bidang-bidang lainnya dapat dilalui secara terarah, sehat dan bahagia. 2. DAFTAR PUSTAKA i. Ibrahim, Himti. 2008. “Masalah Remaja”.(online).tersedia : http : // www. indoskripsi.com.(27 Oktober 2009) ii. Aulia, Iskandar.2006.”Remaja dan Permasalahannya”.(online).tersedia : http//www.trustysmile.com.(25 Oktober 2009)

EMOSI PADA MASA REMAJA

January 18, 2010

Nama             : Febby Irawan

NIM               : 0901333

Emosi pada masa-masa remaja perlu diperhatikan karena hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kegiatan yang dijalani sehari-hari. Seperti keadaan emosi yang mempengaruhi perasaan di dalam menjalani aktivitasnya. Karena hal tersebut berperan di dalam prestasi dan hasil dari kegiatan yang dijalani tersebut.

Secara istilah, emosi merupakan warna efektif yang menyertai setiap keadaan atau perilaku individu. Yang dimaksud warna efektif ini adalah perasaan-perasaan tertentu yang dialami pada saat menghadapi atau menghayati suatu situasi tertentu. Contohnya gembira, bahagia, putus asa, terkejut, tidak senang.

Sedangkan menurut para ahli, yaitu sebagai berikut :

Lindsley, dia mengemukakan teorinya yang disebut “Activition theory” (teori pergerakan). Menurut teori ini emosi disebabkan oleh pekerjaan yang terlampau keras dari susunan syaraf terutama otak. Contohnya, apabila individu mengalami frustasi, susunan syaraf yang bekerja sangat keras yang menimbulkan sekresi kelenjar-kelenjar tertentu yang dapat mempertinggi pekerjaan otak maka hal itu menimbulkan emosi.”

John B Waston, mengemukakan bahwa ada tiga dasar pola emosi, yaitu takut, marah, dan cinta (fear anger and love). Ketiga jenis emosi tersebut menunjukan respons tertentu pada stimulus tertentu pula, tetapi kemungkinan terjadi pula modifikasi (perubahan).

Sarlito Wirawan Sarwono, berpendapat bahwa emosi merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai dengan warna afektif, baik pada tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang kuat (mendalam).

Adapun ciri-ciri dari emosi itu sendiri, yaitu ; Lebih bersifat subjektif daripada peristiwa psikologs lainnya,seperti pengamatan dan berfikir, bersifat fluktuasi (tidak tetap), banyak bersangkut paut dengan peristiwa paengenalan pancaindra.

Emosi perlu diperhatikan karena keterkaitan dan pengaruhnya terhadap manusia di dalam menjalani rutinitasnya. Oleh karena itu kita perlu memahami gejala-gejala yang timbul dari emosi itu sendiri. Agar kita dapat mengoptimalkan suatu kondisi ataupun dapat meminimalisir keadaam yang kurang baik yang ditimbulkan oleh emosi tersebut.