Kedisiplinan, Apakah Harus dengan Kekerasan?

Hesti Febrianti

0900583

PPB A

Disiplin adalah kepatuhan untuk menghormati dan melaksanakan suatu system yang mengharuskan orang untuk tunduk kepada keputusan, perintah dan peraturan yang berlaku. Dengan kata lain, disiplin adalah sikap menaati peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan tanpa pamrih.disiplin adalah kunci sukses, sebab dalam disiplin akan tumbuh sifat yang teguh dalam memegang prinsip, tekun dalam usaha, pantang mundur dalam kebenaran, dan rela berkorban untuk kepentingan agama dan jauh dari sifat putus asa.Perlu kita sadari bahwa betapa pentingnya disiplin dan betapa besar pengaruh kedisiplinan dalam kehidupan, baik dalam kehdupan pribadi, dalam kehidupan masyarakat maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

KEDISIPLINAN TIDAK DENGAN KEKERASAN

Kedisiplinan dalam dunia pendidikan adalah hal yang sangat wajib. Tidak hanya dalam dunia pendidikan, dalam kehidupan sehari-hari, disiplin adalah hal yang harus dan wajib untuk dilakukan. Tapi, jika melakukan kekerasan kepada bawahan atau junior dengan mengatasnamakan kedisiplinan adalah hal yang sangat keliru. Hal ini sering terjadi di dunia pendidikan negara kita yang berujung pada kematian. Berbagai macam kasus tentang kekerasan yang mengatasnamakan kedisiplinan sering terjadi. Banyak korban yang mengalami hal seperti ini. Mereka mengalami siksaan dari senior, atau bahkan guru atau pembimbing akademik mereka. Alasannya adalah karena mereka kurang disiplin. Bagi para senior, kemungkinan mereka melakukan ini karena unsur balas dendam. Bagaimana tidak disebut sebagai balas dendam, mereka melakukan hal ini karena merasa dirinya pernah mengalami hal yang sama, sehingga ingin melakukannya juga pada juniornya. Tentunya ini sangat disayangkan karena tindakan seperti ini mencoreng nama baik sekolah atau kampus mereka. Bahkan mencoreng nama baik dunia pendidikan.

Kekerasan yang dialami siswa di sekolah dapat dilakukan oleh berbagai pihak, seperti guru, petugas sekolah, siswa atau kelompok siswa lainnya. Yang dimaksud dengan kekerasan adalah:

“Bentuk perilaku dimana terjadi pemaksaan atau usaha menyakiti secara psikologis ataupun fisik terhadap seseorang/sekelompok orang yang lebih ‘lemah’ oleh seseorang/sekelompok orang yang lebih ‘kuat’. Pemaksaan atau usaha menyakiti ini dilakukan dalam sebuah kelompok misalnya kelompok siswa satu sekolah”. (Ma, Stein & Mah, Olweus dan Rigby dalam Riauskina, Djuwita, dan Soesetio, 2005:1, dalam www.sejiwa.com).

Sedangkan Coloroso (2007:158), menyatakan bahwa “penindasan atau kekerasan adalah tentang penghinaan, yaitu suatu perasaan tidak suka yang sangat kuat terhadap seseorang yang dianggap tidak berharga, inferior, atau tidak layak mendapat penghargaan“. Kemudian Lipskins (2008:20), mengartikan “Kekerasan sebagai tindakan penyerangan dengan sengaja yang tujuannya melukai korban secara fisik atau psikologis atau keduanya”

Sejalan dengan ini menurut Papalia, dkk yang dikutip oleh Djusman (2007:1) dalam (www.suaranak.go), mendefinisikan “kekerasan sebagai  perilaku agresif yang disengaja dan berulang-ulang untuk menyerang target atau korban, yang secara khusus adalah seseorang yang lemah, mudah di ejek dan tidak membela diri”.

Ada beberapa jenis perilaku penindasan atau kekerasan yang biasa terjadi di kalangan siswa, baik bersifat fisik maupun psikis. Coloroso (2007:46) mengelompokkan penindasan itu ke dalam tiga (3) kelompok berikut:

1)      Penindasan/kekerasan verbal adalah bentuk penindasan yang paling umum dan mudah dilakukan, baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan. Penindasan ini dapat berupa julukan nama, fitnah, celaan, kritik kejam, penghinaan baik yang bersifat pribadi maupun rasial, telepon yang kasar, e-mail yang mengintimidasi, surat kaleng, dan gosip.

2)      Penindasan/kekerasan fisik adalah penindasan yang paling tampak dan dapat diidentifikasi. Yang termasuk jenis ini adalah: memukuli, mencekik, menyikut, meninju, menendang, mencakar, meludahi, dan merusak serta menghancurkan pakaian serta barang-barang anak yang tertindas.

3)      Penindasan/kekerasan relasional adalah pelemahan harga diri si korban, penindasan secara sistematis melalui pengabaian, pengucilan, pengecualian, atau penghindaran. Penindasan ini sulit untuk dideteksi dari luar.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penindasan atau kekerasan pada siswa dapat terjadi secara verbal, fisik dan relasional, baik oleh siswa laki-laki maupun perempuan.

Dampak kekerasan yang Mengatasnamakan Kedisiplinan terhadap Motivasi Belajar

Kekerasan berdampak negatif bagi korbannya, karena dalam hal  ini terjadi ketidakseimbangan kekuasaan dimana para pelaku memiliki kekuasaan yang lebih besar  sehingga korban merasa tidak berdaya untuk melawan mereka. Menurut Riauskina, Djuwita dan Soesetio (2005:4) dalam (www.sejiwa.com), bahwa:

kekerasan tidak memberi rasa aman dan nyaman, membuat anak merasa takut dan terintimidasi, rendah diri serta tak berharga. Ia akan sulit berkonsentrasi dalam belajar, ia akan tak terdorong  untuk bersosialisasi dengan lingkungannya, ia akan enggan bersekolah, ia akan menjadi pribadi yang yang tak percaya diri dan sulit berkomunikasi. Ia akan sulit berpikir jernih sehingga prestasi akademisnya dapat terancam merosot. Dan mungkin pula ia akan kehilangan rasa percaya pada lingkungannya yang banyak menyakiti dirinya.”

Di samping itu, korban kekerasan di sekolah juga dapat memancing timbulnya gangguan psikologis rasa cemas yang berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri dan gejala-gejala gangguan stres pasca trauma (post-traumatic stress disorder) (Djusman, 2007:2, http://www.suaraanak.go). Bahkan lebih jauh,  dapat menghambat aktualisasi diri siswa yaitu keinginan untuk mewujudkan dan mengembangkan potensi diri, yang merupakan tingkat kebutuhan paling atas dalam teori kebutuhan Maslow.

Dari pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa kekerasan di sekolah yang mengatasnamakan kedisiplinan mempunyai dampak yang sangat buruk terhadap siswa baik fisik maupun psikologis, termasuk dampak terhadap motivasi belajar siswa dalam pembelajaran.

Kedisiplinan, merupakan sebuah kata yang selalu diharapakan dan sangat penting dalam menjalani kehidupan sosial dimanapun kita berada. Baik itu di rumah, di sekolah, di jalan, dan dalam hidup bermasyarakat. Kedisiplinan sebagai penegak keteraturan hidup.

Namun, bagaimankah realita sosialisasi kedisiplinan dalam masyarakat?
Keluarga merupakan titik awal sosialisasi nilai dan norma yang hidup di masyarakat. Keluarga sangat menentukan pembentukan nilai, norma, dan kepribadian setiap individu. Selain faktor biologis yang dibawa individu itu sendiri. Banyak cara yang dilakukan untuk menanamkan kedisiplinan dalam diri individu. Cara tersebut dapat bersifat menekan atau mengekang. Sifat ini  misalnya, dengan kekerasan orang tua kepada anak. Agar anaknya takut dan selalu mematuhi keinginanorangtuanya.

Apakah cara tersebut benar?

Tentunya tidak.Di sisi lain, lembaga pembentuk kepribadian adalah sekolah (tempat pendidikan). Banyak tindak kekerasan yang dilakukan oleh oknum ‘senior‘ dan oknum ‘guru’ kepada muridnya. Penanaman kedisiplinan yang keras agar bawahannya takut dan segera mematuhi keinginannya bukanlah cara yang benar untuk menghasilkan generasi-ganerasi muda yang patriotism dan berani. “Kekerasan”, sebuah kata yang mungkin sangat kita benci. Sekarang mari kita renungkan, apakah hanya dengan kekerasan sikap disiplin dapat tertanam dalam hati?. Pantaskah seorang pendidik melakukan tindak kekerasan? Tentunya hal tersebut tidak sesuai dengan tujuan awal dari pendidikan yaitu, meningkatkan SDM dan mencetak insani yang berakhlak mulia.

Apabila guru melakukan tindak kekerasan,bagaimana kepribadian anak didiknya?

Tentunya jiwa-jiwa yang keras dan diktatoris yang akan tertanam dalam hati mereka. Tentunya masih banyak cara yang jauh lebih baik untuk menanamkan kedisiplinan kepada diri setiap individu, salah satunya adalah sikap menghargai dan tolerir terhadap orang-orang di sekitar kita, yang dapat membangkitkan semangat dan kesetiaan orang yang kita bina. Sikap saling menghormati, menghargai, dan saling melengkapi harus kita lakukan agar benih-benih potensi individu yang dapat membangun negeri ini dapat tumbuh subur di bumi ibu pertiwi.

KESIMPULAN

Terdapat pengaruh yang signifikan dan negatif antara kekerasan pada siswa dengan motivasi belajar siswa. Ini bahwa jika prilaku kekerasan terhadap siswa tinggi, maka motivasi belajar siswa cenderung rendah.

Sikap penekanan terhadap kedisiplinan, haruslah mengetahui situasi, kondisi, dan waktu kapan kita harus melakukannya? Sehingga kita bisa membedakan kapan waktunya kita santai, bercanda, tartawa, dan kapan waktunya kita harus disiplin dan serius. Sehingga tidak akan berlebih terhadap tindakan tertentu, yang akhirnya berakibat buruk pada psikologis seseorang.Akhirnya, marilah kita meningkatkan kedisiplinan agar tercipta kehidupan yang teratur dan dapat mengendalikan emosi dan berfikir jernih tentang bagaimana cara menanamkan kedisiplinan. Mari jauhi kekerasan untuk menciptakan hidup yang teratur dan damai.

REFRENSI

Coloroso, Barbara. (2007). Stop Bullying. Jakarta: Serambi

Dimyati dan Mudjiono. (2006). Belajar dan pembelajaran: Jakarta: Rineka Cipta

Djusman, Joko. (2007). “Bullying Menghambat Aktualisasi Siswa”.

http://www.suaraanak.go

Lipskins, Susan. (2008). Menumpas Kekerasan Pelajar Dan Mahasiswa. Banten: Inspirita

Riauskina dkk, (2005). ”Kekerasan Tersembunyi Disekolah”. www.sejiwa.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: