PERILAKU SEKS BEBAS DI KALANGAN REMAJA

Dian Ramadhani
0901186
PPB-A/2009

PENDAHULUAN
Masa remaja adalah masa dimana seseorang harus menghadapi tekanan-tekanan emosi dan sosial yang saling bertentangan. Disatu sisi remaja mencoba melepaskan diri dari ketergantungan sebagai anak, tapi disisi lain belum berhasil membuktikan kemampuan mandiri sebagai orang dewasa. Masalah perilaku seksual paling sering terjadi pada kelompok usia remaja. Salah satu penyebab timbulnya masalah ini adalah adanya perubahan organobiologik akibat pematangn organ-prgan reproduksi.
Penelitian Sahabat Remaja dan data klien (1987- sekarang) tampak bahwa masalah terbesar remaja adalah seksualitas. Mulai dari masalah pacaran, perilaku seks, kehamilan tidak diinginkan, orientasi seksual, body image, dan mitos-mitos seks. Di masa remaja inilah ketika fungsi organ reproduksi dan sistem hormon mulai bekerja, secara alamiah remaja menjadi sangat ingin tahu tentang seks. Keingin tahuan mereka biasanya disalurkan melalui perbincangan dengan teman sebaya, mencari informasi dari sumber-sumber pornografi, dan lalu mempraktekkan dengan diri sendiri, pacar, teman, atau orang lain. Jarang sekali remaja melibatkan orangtua atau guru untuk mendiskusikan masalah seksualitas yang lebih dalam. Disinilah pentingnya pendidikan seks bagi para remaja. Hal ini untuk membantu mengurangi kecemasan remaja ketika menghadapi kematangan seksual serta sebagai penyalur pengetahuan seks bagi mereka.
Seringkali perilaku seksual remaja sekarang sangat mengkhawatirkan, karena dari gaya berpacaran mereka yang terkadang sudah tidak mengindahkan norma-norma yang berlaku. Karena melalui gaya berpacaran yang tidak sehat itu mereka menghalalkan untuk berhubungan seks diluar nikah. Ada kesan pada remaja, seks itu menyenangkan, puncak rasa kecintaan, yang serba membahagiakan sehingga tidak perlu ditakutkan. Berkembang pula opini seks adalah sesuatu yang menarik dan perlu dicoba. Terlebih lagi ketika para remaja telah berada pada lingkungan pergaulan bebas yang membuat mereka menjadi terjerumus dengan seks bebas.
50 persen dari 474 remaja yang dijadikan sample penelitian tentang perilaku seks bebas, mengaku telah melakukan hubungan seks tanpa nikah/seks bebas. (National Abortion Federation, 1999 ).
Dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Dari sekitar lima persen pada tahun 1980-an, menjadi duapuluh persen pada tahun 2000. ( Nugraha, 2000) .
Sekian banyak masalah seputar perilaku remaja yang dinilai menyimpang tersebut, ada tiga pertanyaan mendasar yang perlu segera dijawab, yaitu apa penyebab dan dampak perilaku seks bebas tersebut, serta bagaimana cara mengatasinya.

Pada masa remaja alat kelamin sekunder telah matang, sehingga terjadi perubahan fisik dan emosi. Hal ini termasuk kedalam teori perkembangan psikologi yang alami terjadi “pada setiap individu ketika beranjak menuju tingkat kedewasaan maka tanda-tanda fisik seperti karakter seks pada usia remaja baik yang primer maupun yang sekunder ikut berubah, begitu juga dengan tanda-tanda psikis yang ikut berubah seperti berkembangnya rasa ingin tahu terutama yang berhubungan dengan seks” (Tn.2008:16). Seksualitas pada masa remaja inilah yang sedang memuncak. Dimana ketika fungsi reproduksi mulai bekerja, secara alamiah remaja menjadi ingin tahu banyak tentang seks. Dan seringkali tindakan yang dilakukan remaja tidak dapat dikendalikan.

Pengertian Seksulitas
Seks merupakan tindakan hubungan badan antara laki-laki dan perempuan. Kontak badan antara yang berlawanan jenis bisa menimbulkan gairah seksual. Aktifitas seksual pada dasarnya adalah bagian dari naluri yang pemenuhannya sangat dipengaruhi stimulus dari luar tubuh manusia dan alam berfikirnya. ”Seksualitas seseorang atau individu dipengaruhi oleh banyak aspek dalam kehidupan, termasuk didalamnya prioritas, aspirasi, pilihan kontak sosial, hubungan interpersonal, self evaluation, ekspresi emosi, perasaan, karir dan persahabatan. Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat, baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis” (Wirawan, 2001).

Sebab-Sebab Timbulnya Perilaku Seks Bebas pada Remaja
Berkembangnya naruli seks akibat matangnya alat-alat kelamin sekunder, membuat pengetahuan remaja mengenai seks menjadi besar. Namun karena kurangnya informasi mengenai seks dari orangtua dan dari sekolah/lembaga formal membuat para remaja mencari informasi seks dari media massa yang tidak sesuai dengan norma-norma yang dianut seperti dari media cetak dan elektronika, teman sebaya, dan pergaulan sosial. “Sumber informasi yang paling besar bagi mereka adalah media massa 70%, peran orang tua kurang begitu menonjol 45%) sedangkan peran guru sebagai sumber informasi sebesar 62%” (Anton, 2004). Salah satu faktor lain yang mempengaruhi remaja untuk melakukan hubungan seks pranikah adalah membaca buku porno dan menonton blue film.
Menurut dr. H. Boyke Dian Nugraha, SpOG, MARS dalam seminarnya:
Salah satu perubahan terpenting dengan matangnya alat kelamin sekunder tadi mereka mulai tertarik kepada lawan jenisnya. Kenikmatan tentang cinta dan seks yang ditawarkan oleh berbagai informasi, baik berupa majalah, tayangan telenovela, film, internet yang mengakibatkan fantasi-fantasi seks mereka berkembang dengan cepat, dan bagi mereka yang tidak dibekali dengan nilai moral dan agama yang kukuh, fantasi-fantasi seks tersebut ingin disalurkan dan dibuktikan melalui perilaku seks bebas maupun perilaku seks pranikah saat mereka pacaran. Disinilah titik rawannya. Gairah seks yang memuncak pada pria terjadi pada usia 18-20 tahun, padahal diusia tersebut mereka masih bersekolah/kuliah sehingga tidak mungkin melakukan pernikahan. Akibatnya mereka menyalurkan gairah seks mereka yang tinggi dengan melakukan seks diluar nikah.
Penyebab seks bebas di kalangan remaja lainnya adalah faktor lingkungan, baik lingkungan keluarga maupun lingkungan pergaulan. Lingkungan keluarga yang dimaksud adalah cukup tidaknya pendidikan agama yang diberikan orangtua, cukup tidaknya kasih sayang dan perhatian yang diperoleh sang anak dari keluarganya, cukup tidaknya keteladanan yang diterima sang anak dari orangtuanya. Apabila tidak, maka anak akan mencari tempat pelarian di jalan-jalan serta di tempat-tempat yang tidak mendidik mereka. Anak akan dibesarkan di lingkungan yang tidak sehat bagi pertumbuhan jiwanya. Anak akan tumbuh di lingkungan pergaulan bebas.
Remaja masa kini yang mengaku dirinya anak gaul ditandai dengan nongkrong di kafe, mondar-mandir di mal, gaya fun, berpakaian serba sempit dan ketat yang memamerkan lekuk tubuh, dan mempertontonkan bagian tubuhnya yang seksi. Akibatnya, remaja anak gaul inilah yang biasanya menjadi korban dari pergaulan bebas, di antaranya terjebak dalam perilaku seks bebas.

Dampak Perilaku Seks Bebas pada Remaja
Seks bebas memiliki banyak konsekwensi misalnya, penyakit menular seksual,(PMS), selain juga infeksi, infertilitas dan kanker. Tidak heranlah makin banyak kasus kehamilan pranikah, pengguguran kandungan, dan penyakit kelamin maupun penyakit menular seksual di kalangan remaja (termasuk HIV/AIDS), terputusnya sekolah, perkawinan usia muda, perceraian, penyalahgunaan obat, merupakan akibat buruk petualangan cinta dan seks yang salah disaat remaja. Tidak jarang masa depan mereka yang penuh harapan hancur berantakan karena masalah cinta dan seks.
Makin banyak seseorang melakukan fantasi seks makin cenderung untuk melakukan aktifitas seks, sementara perasaan berdosa, mitos-mitos yang menakutkan, kehamilan yang tidak diinginkan, berbagai penyakit kelamin menghantui mereka. Akibatnya sering terjadi konflik di dalam jiwa mereka dan tentunya keadaan ini dapat mengganggu perkembangan intelektualitasnya. (Anton, Tn.2002).
Secara psikologis seks pra nikah memberikan dampak hilangnya harga diri, perasaan dihantui dosa, perasaan takut hamil, lemahnya ikatan kedua belah pihak yang menyebabkan kegagalan setelah menikah, serta penghinaan terhadap masyarakat atau akan sering menjadi cemoohan lingkungan sekitarnya.
Pakar seks juga specialis Obstetri dan Ginekologi Dr. Boyke Dian Nugraha menjelaskan bahwa:
Dari sisi kesehatan, perilaku seks bebas bisa menimbulkan berbagai gangguan. Diantaranya, terjadi kehamilan yang tidak di inginkan. Selain tentunya kecenderungan untuk aborsi, juga menjadi salah satu penyebab munculnya anak-anak yang tidak di inginkan. Keadaan ini juga bisa dijadikan bahan pertanyaan tentang kualitas anak tersebut, apabila ibunya sudah tidak menghendaki. Seks pranikah, juga bisa meningkatkan resiko kanker mulut rahim. Jika hubungan seks tersebut dilakukan sebelum usia 17 tahun, risiko terkena penyakit tersebut bisa mencapai empat hingga lima kali lipat.

Upaya untuk Menanggulangi Seks Bebas di Kalangan Remaja
Orangtua sebagai penanggung jawab utama terhadap perilaku anak, harus menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dalam keluarganya. Orang tua sejak usia dini harus menanamkan dasar yang kuat pada diri anak bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Jika konsep hidup yang benar telah tertanam maka remaja akan memahami jati dirinya, menyadari akan tugas dan tanggung jawabnya, mengerti hubungan dirinya dengan lingkungaanya. Kualitas akhlak akan terus terpupuk dengan memahami batas-batas nilai, komitmen dengan tanggung jawab bersama dalam masyarakat. Remaja akan merasa damai di rumah yang terbangun dari keterbukaan, cinta kasih, saling memahami di antara sesama keluarga. Pengawasan dan bimbingan dari orang tua dan pendidik akan menghindarkan dari pergaulan bebas. Orang tua harus terus mengawasi dan mengontrol perkembangan perilaku remaja.
Serta pendidikan seks harus diberikan sejak dini agar mereka sadar bagaimana menjaga supaya organ-organ reproduksinya tetap sehat. Sebenarnya dalam masalah reproduksi ini, peran orang tua dan guru diharapkan lebih menonjol karena bagaimanapun juga mereka juga berperan sebagai filter atau penyaring bagi informasi yang akan diberikan kepada remaja, berbeda bila informasi diperoleh dari media masa yang sering kali tanpa penyaringan terlebih dahulu. Dalam upaya pemberian informasi mengenai masalah reproduksi bagi remaja, khususnya di sekolah, perlu peran guru ditingkatkan. Untuk itu ingin diketahui seberapa jauh pengetahuan guru, khususnya guru bimbingan dan konseling. Diharapkan guru Bimbingan dan Konseling nantinya dapat berperan sebagai nara sumber di sekolah (tempat kerja) dan memberikan informasi yang benar mengenai hal-hal tersebut. Serta diadakan konseling seksualitas remaja.

KESIMPULAN
Perkembangan seksualitas pada intinya adalah hal yang alami. Seksualitas pada masa remaja inilah yang sedang memuncak. Dimana ketika fungsi reproduksi mulai bekerja, secara alamiah remaja menjadi ingin tahu banyak tentang seks. Dan seringkali tindakan yang dilakukan remaja tidak dapat dikendalikan. Pergaulan bebas pada usia remaja memang sangatlah rentan karena rasa ingin tahu yang besar kemudian memacu remaja untuk berperilaku tidak terpuji. Maka diperlukan bimbingan dan pengarahan dari orangtua dan juga guru agar tidak salah bergaul. Karena pengawasan dan kontrol,serta pendidikan dari orangtua sangat penting untuk pembentukan karakter dan perilaku remaja yang akan beranjak dewasa.
Remaja harus membentengi diri mereka dengan unsur agama yang kuat, juga dibentengi dengan pendampingan orang tua. Dan selektif dalam memilih teman-teman. Karena ada kecenderungan remaja lebih terbuka kepada teman dekatnya ketimbang dengan orang tua sendiri, kenyataannya pengaruh gaya seks bebas yang mereka terima jauh lebih kuat dari pada kontrol yang mereka terima maupun pembinaan secara keagamaan
Bagi guru terutama kepada guru Bimbingan dan Konseling diharapakan dapat membina para remaja tersebut menuju kemasa depan yang lebih cerah dengan mengadakan konseling seksualitas remaja. Konseling seksualitas remaja adalah proses pemberian bantuan dari konselor kepada seorang klien atau sekelompok orang yang memiliki masalah seksualitas dan kesehatan reproduksi sesuai dengan umur dan permasalahan, perkembangan fisik dan mental pada masa pubertas, misalnya masalah seputar pacaran, perilaku seks, kesehatan reproduksi secara umum, body image, masalah dalam kehidupan perkawinan, HIV/AIDS, penyakit menular seksual dan kehamilan tidak diinginkan.

REFERENSI

• Yusuf, Syamsu. 2008. Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung: Rosda.
• . “Mengatasi Perilaku Seks Bebas”. [online]. Tersedia: http://www.acehforum.or.id/. [ 26 oktober 2009].
• Nugraha, Boyke. “Seminar Seks”. [online]. Tersedia: http://www.solusisehat.net. [27 oktober 2009].
• Wirawan. “Psikologi Seks”. [online]. Tersedia: http://duniapsikologi.dagdigdug.com. [26 oktober 2009].
• Anton. “Pendidikan Kesehatan Reproduksi”. [online]. Tersedia: http://www.antonbahagia.com. [12 oktober 2009].

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: