Makna di Balik Bakat Haeni Sari Purwanti 0901245

Haeni Sari Purwanti

0901245

Pada dasarnya setiap individu atau setiap anak memiliki bakat yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut terletak pada jenis bakatnya. Misalkan, Mohammad Ali yang berbakat sebagai pemain tinju. Ahmad Sadali yang sanggup memesonakan dunia dengan lukisan-lukisannya. Ari Tulang yang ahli dalam bidang koreografinya. Serta kepiawaian Susi Susanti, Rudi Hartono, Taufik Hidayat dalam bermain bulu tangkis.

Kita sering mendengar kata “Bakat” dalam kehidupan sehari-hari, namun tidak jarang dari kita kurang memehami arti dari bakat itu sendiri. Bahkan kita sering mengartikan sama antara Bakat dengan Kemampuan. Yang sebenarnya bakat dan kemampuan itu mempunyai arti yang berbeda.

Bakat (aptitude) biasanya diartikan sebagai kemempuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan atau dilatih agar dapat terwujud (Semiawan, et al., 1984:1; Munandar, 1987:17). Kemampuan (ability) adalah daya untuk melakukan sesuatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Kemampuan menunjukkan bahwa suatu tindakan dapat dilaksanakan sekarang, sedangkan bakat memerlukan latihan dan pendidikan agar suatu tindakan dapat dilakukan di masa yang akan datang.

Bakat dan kemampuan dapat menentukan “prestasi” seseorang. Orang yang berbakat Matematika, misalnya, diperkirakan akan mampu mencapai prestasi yang tinggi dalam bidang itu. Jadi, prestasi merupakan perwujudan dari bakat dan kemampuan. Prestasi yang sangat menonjol dalam salah satu bidang, mencerminkan bakat yang unggul dalam bidang tersebut. Sebaliknya, belum tentu apabilaorang yang berbakat akan selalu mencapai prestasi yang tinggi.

Terwujudnya bakat seseorang ditentukan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor itu sebagian ditentukan oleh keadaan lingkungan seseorang, seperti kesempatan, sarana dan prasarana yang tersedia, dukungan dan dorongan orangtua, taraf sosial ekonomi orangtua, tempat tinggal, di daerah perkotaan atau pedesaan, dan sebagainya. Sebagian faktor lainnyaditentukan oleh keadaan dalam diri orang itu sendiri, seperti minatnya terhadap suatu bidang, keinginannya untuk berprestasi, dan keuletan untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Sejauh mana orang dapat mencapai prestasi yang unggul, banyak bergantung pada motivasinya untuk berprestasi disamping bakat bawaannya.

Anak-anak berbakat adalah anak-anak yang di tingkat persekolah, sekolah dasar, dan sekolah menengah, diidentifikasi memiliki kemampuan yang tinggi, baik yang sudah nyata maupun yang potensial dalam bidang-bidang, seperti intelektual, kreatif, dan kepandaian khusus, kepemimpinan, dan seni (Sobur, 1991:62).

Pengamatan terhadap perilaku keberbakatan yang luar biasa dapat dilakuka dengan ekspresi, minat dan perhatiannya yang besar terhadap suatu hal yang khusus atau suatu bidang studi, aktivitas, ekstrakurikuler, kesenian, tulisan, mengarang, dan kejadian-kejadian di lingkungannya. Ini disertai oleh keinginan-keinginan untuk melekukan atau memperoleh sesuatu lebih dari “porsi” pada umumnya, serta untuk mendapat hasil yang sebaik-baiknya dan setinggi-tingginya. Reaksi-reaksi yang tidak pernah puas merupakan salah satu ciri dari “task commitment” yang baik, yang ditandai oleh ketekunan, kegigihan, keuletan, dan tidak mudah menyerah, suatu “pushing/will power” yang kuat sekali.

Seberapa jauh seorang anak bias disebut berbakat, sebetulnya bergantung pada keterikatan antara kemampuan di atas rata-rata, kreativitas, dan tanggung jawab atau pengikatan diri terhadap tugas. Hal-hal tersebut mempunyai peran yang sama-sama menentukan. Jadi bukan kemampuan di atas rata-rata saja, tetapi kreativitas dan tanggung jawab pun sama pentingnya.

Kemampuan di atas rata-rata, tidak berarti bahwa kemampuan itu harus unggul. Yang pokok ialah kemampuan itu harus cukup diimbangi oleh kreativitas dan tanggung jawab terhadap tugas.

Kreativitas, seperti telah disinggung, ialah kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan yang baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. Kreativiras meliputi, baik ciri-ciri aptitude seperti kelancaran, keluesan, dan keasliandalam pemikiran maupun ciri-ciri (non-aptitude), seperti rasa ingin tahu, senag mengajukan pertanyaan, dan selalu ingin mencari pengalaman baru.

Tanggung jawab, menunjuk pada semangat dan motivasiuntuk mengerjakan dan menyelesaikan suatu tugas; suatu pengikatan diri dari dalam; jadi, bukan tanggung jawab yang diterima dari luar.

Pada dasarnya setiap anak membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya, apapun bentuk kemampuan itu. “Kesempatan” memang merupakan kata kunci bagi anak-anak berbakat dan orangtuanya. Semua anak memang seharusnya mendapatkan kesempatan sebanyak yang mereka butuhkan dan mereka inginkan. Anak-anak berbakat umumnya dapat menemukan lebih banyak kesempatan dibandingkan dengan anak-anak bias, dan secara aktif mereka akan selalu mencari kesempatan itu.

Kesimpulan

Hal yang harus kita perhatikan bahwa anak-anak berbakat butuh diberi kesempatan untuk berkembang dengan kecepatan yang sesuai bagi mereka. Memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk berkembang menurut kecepatannya sendiri bahwa kita harus waspada akan adanya bakat yang sering terlambat berkembang. Acap kali terjadi, anak-anak tidak tahu bahwa mereka memiliki bakat dibidang tertentu.

Referensi

Sobur, Alex, 2003. Psikologi Umum, Bandung : CV. PUSTAKA SETIA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: