KEPRIBADIAN DALAM PERSEPEKTIF ISLAM Senja Wijaya Rahmat 0900476 PPB A 2009

 

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang diciptakan Allah dengan diberikan potensi akal pikiran dan hati nurani. Hal ini menjadi indikator dalam berbuat dan menentukan mana yang baik-buruk dan benar-salah. Dengan potensi ini manusia bisa menjadi manusia seutuhnya. Namun meski sama diberi akal dan hati, tapi ada perbedaan dalam aplikasi penggunaannya, manusia adalah makhluk individu yang berbeda dengan manusia lainnya. Hal yang membedakan itu diantaranya adalah kepribadian. Kepribadian adalah hal mutlak yang dimiliki manusia. Dalam membahas kepribadian, kita tidak bisa memisahkan aspek-aspek penting pada manusia itu sendiri, dan tidak bisa mementingkan salah satu aspek dengan mengabaikan aspek yang lain, contohya, hanya terpaku pada aspek badani saja dengan mengabaikan aspek ruh dan sebaliknya. Keduanya harus dalam koridor yang seimbang.“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakanu bagianmu dari (kenikmatan) dunia”(Al-Qashash:77). Ketika telah tercipta keseimbangan antara badani dan rohani (ruh) maka akan terwujudlah sosok manusia sempurna, seperti Rasul SAW, beliau adalah sosok pribadi sempurna, beliau sanggup menyeimbangkan kebutuhan jasmani dan rohaninya. Dalam Persepektif barat, kajian mengenai kepribadian telah lama dipaparkan, diantara mereka bahkan ada yang telah mengelompokkan kepribadian dalam berbagai segi pembahasan, ada yang membahas dilihat dari segi jenis-jenis cairan di dalam tubuh (Hipocrates dan Galenus), segi Konstitusi dan segi Temperament (Krestchmer), dan karakteristik (Eduard Spanger). Namun, kebanyakan psikolog barat sering terjebak dalam persepsi mereka sendiri. Mereka mengutamakan kajian-kajian yang bersifat empiris sehingga sulit dilakukan dalam kajian psikolog(). Sejak berabad-abad silam, Al-Qur’an pun telah mengaji mengenai tipe-tipe kepribadian, tipe kepribadian dalam Al-Qur’an dibagi menjadi tiga berdasarkan aqidah. Ini menunjukkan bahwa faktor utama dalam menilai kepribadian manusia menurut Al-Qur’an adalah aqidah dan ketaqwaan.“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu”(Al-Hujurat:13). Macam-macam Kepribadian Manusia dilahirkan dengan fitrah memeluk agama Allah yang hanif, namun perlu pengajaran dan bimbingan agar tidak menyimpang. Manusia pun diberikan kesenangan dan kecenderungan kepada hal-hal baik dan lapang, ini pun ditunjang dengan hati nurani yang Allah ciptakan. Namun, banyak orang mengabaikan kecenderungan ini, demi kesenangan semu, mereka berlaku hal-hal yang tidak senonoh (mengindahkan hati nurani). Sesungguhnya Allah memang memberi kebebasan kepada manusia untuk bertindak dan memilih sesuatu, namun semua itu tetap akan dimintai pertanggungjawaban,“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”(Al-Insaan:3). Hal diatas sangat erat kaitannya dengan kepribadian manusia, inilah salah satu dari sekian banyak pilihan-pilihan yang Allah SWT berikan kepada manusia, ada tiga tipe kepribadian menurut aqidak yang Allah SWT firmankan dalam Al-Qur’an, diantaranya tipe orang mukmin, orang munafik dan kafir. Berikut akan dijelaskan sedikit dengan ditinjau dari beberapa segi kehidupan, yaitu aqidah, akhlak, hubungan dengan manusia dan amaliahnya. Diantaranya: 1. Orang mukmin a. Beriman kepada rukun iman yang enam; b. Menjalankan kewajiban-kewajiban ibadah, yaitu shalat, puasa, zakat dan sedekah; c. Amar ma’ruf nahi munkar (Menganjurkan hal baik dan melarang kemungkaran); d. Berbuat baik kepaada sesama; e. Amanah, sabar dan tawadhu’; f. Semangat dalam mencari ilmu; g. Memiliki fisik yang kuat, sehat, bersih, dan suci. Gambaran orang mukmin ini adalah sosok manusia sempurna dalam berbagai aspek kehidupan. Mampu menyelaraskan kehidupan dunia dan akherat. Tentu saja, sesuai dengan kemampuan manusia tanpa mengabaikan fitrahnya(Utsman, 2007:292). Kehidupan orang mukmin adalah kehidupan yang bahagia dan tentram. Sebab ia tak hanya bisa membahagiakan dirinya sendiri tapi oranglain. Pribadinya adalah pribadi yang dirindukan orang-orang. 2. Orang Munafik a. Ketidakteguhan mereka dalam bertauhid, mereka adalah sosok bermuka dua, yang tidak ingin disalahkan. Jika bertemu dengan umat islam mereka seolah pro terhadap tauhid dan jika bertemu dengan non-islam mereka bersikap antitauhid; b. Mereka menganjurkan kemungkaran dan melarang kebaikan; c. Tidak memiliki pendirian yang kuat danoportunis; d. Mereka ragu dan tidak mampu menetapkan hukum dan mengambil keputusan Orang munafik adalah sosok yang plin-plan dan tidak teguh dalam pendirian. Mereka cenderung mencari kesempatan untuk mengutamakan kepentingan mereka dibanding untuk masyarakat, tanah air dan agamanya. Allah telah menyiapkan balasan neraka untuk orang-orang munafik. 3. Orang Kafir a. Orang yang tidak bertauhid dan tidak beriman kepada rukun iman yang enam; b. Berbuat dzahlim dan tidak adil dalam berinteraksi dengan orang mukmin; c. Memutuskan tali silaturahmi; d. Mengikuti hawa nafsu dan gemar berbuat dosa; e. Benci dan dengki kepada orang mukmin; f. Sering membohongi hati nurani dan hatinya tertutup “Allah telah mengunci mata hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup.”(Al-Baqarah:7). Orang-orang kafir adalah orang-orang yang melupakan tujuan hidupnya dan keras dalam menerima dakwah. Sekali lagi, Allah telah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih. Pada dasarnya semua manusia telah diberikan fitrah menerima agama Allah, bahkan kita semua telah mengadakan perjanjian dengan-Nya jauh sebelum kita lahir, kita mengakui bahwa Allah azza wa jalla adalah Tuhan kita. Al-Qur’an membagi kepribadian menjadi tiga, yang dibagi menurut segi aqidah, yaitu orang mukmin, orang munafik dan orang kafir. Kepribadian-kepribadiaan itu memiliki perbedaan signifikan dalam aplikasi kehidupannya. Manusia memiliki kebebasan dalam penentuan hidupnya. Namun, kebebasan ini suatu saat harus dipertaanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Dari ketiga kriteria yang telah dipaparkan, kriteria yang sempurna adalah menjadi seorang mukmin, seorang mukmin adalah jalannya akan senantiasa diridhoi oleh Allah SWT, sebab ia menginterpretasikan hidupnya untuk beribadah kepada-Nya. Referensi Al-Qur’an Said Az-Zahrani, Musfir. 2005. Konseling Timur. Jakarta: Gema Insani. Najati, Muhammad Utsman. 2007. Psikologi Qur’ani. Solo: Aulia Press.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: