PANDANGAN SISWA TERHADAP GURU BK CHINTIA GIANA 0901066 PPB/A

Sampai saat ini guru BK masih di anggap menakutkan. Pandangan tentang guru BK sebagai guru khusus untuk siswa bermasalah masih sangat melekat di sebagian besar sekolah. Anggapan bahwa siswa yang berhubungan dengan guru BK adalah siswa yang bermasalah pun masih sangat melekat dalam ranah pikiransebagaian besar siswa dan orang tuanya. Sehingga gambaran menakutkan tentang guru BK sebagai polisinya sekolah telah menumbuhkan keengganan sebagian besar besar siswa untuk berhubungan dengan guru BK tetapi mereka lebih takut dicap kawan-kawannya sebagai siswa yang bermasalah. Pandangan itu tentu saja sangat tidak menguntungkan bagi perkembangan guru BK dalam melakukan peran besarnya di sekolah. Oleh karenanya, hari-hari ini sudah mulai banyak guru BK yang memulai melakukan pencitraan atas profesinya untuk mengubah pandangan menakutkan tersebut menjadi menyenangkan.

Guru BK harus mengerti betul hak dan kewajibannya secara ideal, professional dan proporsional. Dan itu ada dalam koridor Undang-undang No. 14 tahun 2005. Oleh karenanya perlu ada semacam sosialisasi dan diseminasi undang-undang tersebut terhadap para guru BK agar mereka terpahamkan soal eksistensi profesionalitasnya. Tuntutan kompetensi dalam profesianalitas guru yang diusung Undang-undang gurudan dosen tidak melulu soal didaktil-metiodik yang berbau paedagogik belaka, tetapi jauh lebih kompleks dari itu. Salah satunya bahwa guru harus memiliki kompetensi social yang mumpuni yang ditandai dengan kemampuannya menhadapi, mengantisipasi, dan menyiasati persoala-persoalan yang dibawa perubahan social, seperti teknologi komunikasi dan informasi. Guru BK hari ini sangat membutuhkan kecakapan komunikasi dan mengelola informasi dan data kegiatan serta data siswanya yang berbasis teknologi. Dengan demikian pengetahuan dan keterampilan guru BK akan penguasaan system informasi berbasis computer menjadi kebutuhan yang tak tertolakan.

Oleh karenanya dipandang perlu memberikan bekal kompetensi yang berbasis information & communication technology (ICT) kepada para  guru BK tersebut. Gerakan mengubah paradigma guru BK, memahami koridor profesionalitas berdasar Undang-undang guru dan dosen, dan pembekalan kompetensi berbasis ICT bagi guru bukanlah kegiatan sederhana yang dapat dilakukan sekaligus dalam sekali waktu. Tetapi merupakan upaya besar yang yang harus dilakukan secara gradual dan stimultan dalam rentanng waktu dan kegiatan yang tidak sedikit.

 

PENGERTIAN BINBINGAN DAN KONSELING

Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang di dalamnya terkandung beberapa makna. Sertzer dan Stone (1996) mengemukakan bahwa:

Guidance berasal dari kata guide yang mempunyai arti to direct, pilot, manager, or steer (menunjukkan,menentukan, mengatur atau mengemudikan), sedangkan menurut W.S.Winkel (1981) mengemukakan bahwa guidance mempunyai hubungan dengan guiding: “showing a way” (menunjukan jalan), conducting (menuntun), giving instructions (memberikan petunjuk), regulating (menatur), governing (mengarahkan) dan giving advice (memberikan nasehat).

Menurut pendapat saya, penggunaan istilah bimbingan seperti di kemukakan di atas tampaknya proses bimbingan lebih menekankan kepada peranan pihak pembimbing. Hal ini tentu saja tidak sesuai lagi dengan arah perkembangan dewasa ini, dimana pada saat ini klien lah yang justru dianggap lebih memiliki peranan penting dan aktif dalam pengambilan keputusan serta bertanggungjawab sepenuhnya terhadap keputusan yang diambilnya. Adapun pendapat tentang bimbingan yang dikemukakan oleh beberapa ahli:

 

  • Djumhur dan Moh. Surya, (1975) berpendapat bahwa:

 

“Bimbingan adalah Suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematiskepada individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, agar tercapai kemampuan untuk memahami dirinya, kemampuan untuk menerima dirinya, kemampuan untuk mengarahkan dirinya, dan kemampuan merealisasikan dirinya sesuai potensi atau kemampuannya dalam penyesuaian diri dengan lingkungan”.

 

  • Dalam peraturan pemerintah No.29 tahun 1990 tentang Pendidiksn Menengah dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan”.

 

  • Prayitno, dkk.(2003) mengemukakan bahwa:

 

“Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiori dan berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, bimbingan social, bimbingan belajar dan bimbingan karier melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku”.

Dari beberapa tanggapan di atas, tampaknya para ahli masih beragam dalam memberikan pengertian mengenai bimbingan, kendati demikian saya dapat melihat adanya benang merah, bahwa: bimbingan pada hakekatnya merupakan upaya untuk memberikan bantuan kepada individu atau peserta didik untuk mencapai perkembangan yang optimal. Tetapi disini bantuan yang dimaksud adalah bantuan yang bersifat psikologis.

ASAS BIMBINGAN DAN KONSELING

  • Asas kerahasiaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntun dirahasiakannya segenap datadan keterangan tentang konseli yang menjadi sasaran pelayanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar tejamin.
  • Asas kesukarelaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang mengkehendaki adanya kesuukaan dan kerelaan konseli menigikuti/menjalankan pelayanan/kegiatan yang diperlukan baginya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut.
  • Asas keterbukaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang mengkehendaki konseli yang menjadi sasaran pelayanan bersifat terbukan dan tidak berpura-pura, baik didalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dam materi dari luar yang berguna bagi perkembangan dirinya. Dalam hal ini guru pembimbng berkewajiban mengembangkan keterbukan konseli. Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan. Agar konseli dapat terbuka, guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.
  • Asas kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki konseli yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi aktif didalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan
  • Asas kemandirian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yakni: konseli sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan cirri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkn diri sendiri.
  • Asas kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konselingi ialah permasalahan konseli dalam kondisinya sekarang. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisilampau pun” dilihat dampak atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang.
  • Asas kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang mengkehendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan yang sama hendaknyaselalu bergerak maju, tidak monoton dan terus berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu
  • Asas keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis dan terpadu.
  • Asas keharmonisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma agama, hokum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan dan kebiasaan yang berlaku.
  • Asas keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayana dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah professional.
  • Asas alih tangan kasus, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli mengalihtangankan kepada pihak yang lebih ahli

PRINSIP-PRINSIP BIMBINGAN DAN KONSELING

  • Bimbingan dan konseling diperuntukan bagi semua kenseli.
  • Bimbingan dan konseling sebagai individuasi.
  • Bimbingan menekankan hal yang positif.
  • Bimbingan dan konseling merupakan usaha bersama.
  • Bimbingan dan konseling berlangsung dalam berbagai setting kehidupan.

FUNGSI BIMBINGAN DAN KONSELING

  • Fungsi pemahaman, yaitu bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya dan lingkungannya.
  • Fungsi preventif, yaitu fungsi ynag berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mingkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami konseli.
  • Fungsi pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-funfsi lainnya.konselor berupaya menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli.
  • Fungsi penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kurang aktif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, social, belajar maupun karir.
  • Fungsi penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konselingdalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakulikuler, jurusan atau program studi dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan cirri-ciri kepribadian lainnya.
  • Fungsi adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala sekolah, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan dan kebutuhan konseli.
  • Fungsi penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
  • Fungsi perbaikan, yaitufungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan secara berfikir, perasaan dan bertindak.
  • Fungsi fasilitasi, yaitu memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, selaras, serasi dan seimbang seluruh asper dalam diri konseli.
  • Fungsi pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya.

PROSEDUR UMUM LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

Sebagai sebuah layanan professional, layanan bimbingan dan konseling tidak dapat dilakukan secara sembarangan, namun hatus dilakukan secara tertib berdasarkan prosedur tertentu, yang secara umum terdiri dari enam tahapan, yaitu

1).  identifikasi kasus,

2).  identifikasi masalah,

3). diagnosis,

4).  prognosis,

5).  treatment,

6).  evaluasi dan tindak lanjut.

KEKELIRUAN PEMAHAMAN TERHADAP BIMBINGAN DAN KONSELING

Prayitno (2003) telah mengidentifikasi 15 kekeliruan pemahaman orang dalam melihat bimbingan dan konseling, baik dalam tataran konsep maupun praktiknya yang tentunya sangat mengganggu terhadap pencitraan dan laju pengembangan profesi ini. Kelimabelas kekeliruan itu adalah:

  1. Bimbingan dan konseling disamakan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan.
  2. Menyamakan pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater.
  3. Bimbingan dan konseling dibatasi hanya menangani masalah-masalah yang bersifat insidental.
  4. Bimbingan dan konseling melayani “orang sakit” dan atau “kurang/tidak normal”.
  5. Pelayanan bimbingan dan konseling berpusat pada keluhan pertama saja.
  6. Bimbingan dan konseling menangani masalah yang ringan saja.
  7. Bimbingan dan konseling dibatasi hanya untuk siswa tertentu saja.
  8. Petugas bimbingan dan konseling di sekolah diperankan sebagai “polisi sekolah”.
  9. Bimbingan dan konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat.

10.  Konselor harus aktif, sedangkan pihak lain harus pasif.

11.  Bimbingan dan konseling bekerja sendiri atau harus bekerjasama dengan ahliatau petugas lain.

12.  Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja.

13.  Menyama ratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien.

14.  Memusatkan usaha bimbingan dan konseling hanya pada penggunaan instrumentasi.

15.  Menganggap hasil pekerjaan bimbingan dan konseling harus segera terlihat.

MISKONSEPSI BIMBINGAN DAN KONSELING

Miskonsepsi adalah cara pandang yang salah tentang sesuatu hal. Miskonsepsi bimbingan dan konseling adalah pandangan yang salah tujuan, fungsi dan konsep psikologis.

KESIMPULAN

Guru BK harus mengetahui prinsip-prinsip, asas-asas, dan tujuan mereka, agar mereka tidak lagi di anggap sebagai polisi sekolah dan mampu menghilangkan kekeliruan yang terjadi selama ini dengan lebih intensif lagi berkomunikasi dengan para siswanya dan mengikuti semua bentuk kegiatan yang marak di kalangan siswa sekarang. Seperti penggunaan facebook. Sehingga guru BK bias memanfaatkan media tersebut untuk lebih mendekatkan diri dengan siswanya, agar dapat mengubah citra yang buruk menjadi pribadi yang menyenangkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

REFERENSI

Asosiasi Bimbingan dan Konseling,2008. Penataan Pendidiian Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Bandung: ABKIN

Ewintri, 2009. “Fungsi, Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling”. (online). Tersedia : http://www.google.com. (22 oktober 2009).

Ewintri, 2009. “15 Kekeliruan Pemahaman Tentang Bimbingan dan Konseling”. (online). Tersedia : http://www.google.com. (22 oktober 2009).

Ewintri, 2009. “Prosedur Umum Layanan Bimbingan dan Konseling”. (online). Tersedia : http://www.google.com. (21 0ktober 2009).

Junaidi, Wawan, 2009. “Asas dan Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling”. (online). Teredia : http://www.google.com. (21 oktober 2009).

Ningsih, Kusuma, 2009. “Bimbingan dan Konseling”. (online). Tersedia : http://www.google.com. (21 oktober 2009).

Pribadi, Eka Risyana, 2009. “Pengertian Bimbingan”. (online). Tersedia : http://www.google.com. (16 oktober 2009).

Undang-undang No.14 Tahun 2005. “Tentang Guru dan Dosen”. (online). Tersedia  : http://www.google.com. (25 oktober 2009).

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: