MENUMBUHKAN MINAT BACA PADA MAHASISWA oleh Vivit Puspita Dewi/Mahasiwa jurusan PPB Kelas A NIM : 0901246

 

Majunya sebuah bangsa tidak pernah lepas dari kegiatan belajar-mengajar yang berhasil.Belajar sendiri sangat identik dengan membaca. Membaca apa saja, mulai dari bahan hasil print media cetak ataupun media elektronik. Buku adalah satu dari beberapa jenis media yang banyak memberikan ilmu pengetahuan. Jenis buku itu sendiri dapat bermacam-macam, mulai dari buku pelajaran sampi buku cerita/novel. Selain buku, masih banyak lagi media lainnya yang bisa membagi informasi, ilmu pengetahuan dan wawasan. Contohnya adalah Koran, majalah, tabloid, dan yang paling canggih karena menggunakan media elektronik adalah internet. Namun, ternyata peminat bacaan kedua jenis media di atas adalah sangat rendah.

Kita bisa melihat seperti di perpustakaan, ada waktu ramai dan senggang dikunjungi orang. Pada waktu ramai misalnya, siswa/mahasiswa akan berdatangan ke perpustakaan untuk membuat PR atau tugas, mencari bahan kuliah,atau mencari referensi. Itu semua adalah tuntuttan sebagai salah satu kewajiban yang harus dipikul oleh seorang pelajar. Tapi, di luar itu apakah mereka akan membaca lagi? Jawabannya adalah “belum tentu”.

Rendahnya motivasi  membaca ini juga diungkapkan oleh James Moffet, seorang spesialis seni bahasa dan co-pengarang buku Student-Centered Language Art K-12 mengatakan bahwa persoalan-persoalan membaca disebabkan oleh rendahnya motivasi siswa untuk membaca.

 

 

INDIKATOR RENDAHNYA MINAT BACA MAHASISWA

Berdasarkan beberapa kajian dan artikel yang diakses dari internet, ada beberapa indikator yang dapat diidentifikan sebagai faktor yang mempengaruhi minat baca mahasiswa, sebagai berikut ini.

1.         Saperti info yang dikutip dari sebuah situs, kurangnya minat baca pada  mahasiswa pada umumnya dapat  dibuktikan dari jumlah buku yang terbit di Indonesia. Jumlahnya hanya mencapai 5000-10.000 judul buku per tahun. Angka tersebut sangat kecil kalau dibandingkan dengan Malaysia yang menerbitkan 15. 000 judul buku per tahun, dan Inggris lebih dari 100.000 judul per tahun.

2.         Dan juga dari berbagai sumber informasi yang dapat dipercaya, menunjukkan ada indikasi bahwa minat baca  masyarakat masih sangat rendah. Hal ini terlihat dari data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2006 yang menunjukkan bahwa masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih banyak tertarik dan memilih untuk menonton TV (85,9%) dan atau mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%) (www.bps.go.id, diakses tanggal 24 Desember 2007).

FAKTOR PENYEBAB RENDAHNYA MINTA BACA

Mengapa minat baca mahasiswa dikatakan rendah?

Ada banyak hal yang dikatakan oleh Arixs yang menjadi penyebab rendahnya minat baca pada mahasiswa, yaitu:

  1. Sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat anak-anak/siswa/mahasiswa harus membaca buku, mencari informasi/pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan, mengapresiasi karya-karya ilmiah, sastra, dan lain-lain.
  2. Banyaknya jenis hiburan, permainan, dan tayangan TV yang mengalihkan perhatian mereka dari menbaca buku.
  3. Banyaknya tempat hiburan.
  4. Budaya baca memang belum pernah diwariskan nenek moyang kita.
  5. Sarana untuk memperoleh bacaan, seperti perpustakaan atau taman bacaan, masih merupakan barang aneh dan langka.
  6. Masih dominananya budaya tutur daripada budaya membaca.
  7. Tidak meratanya penyebaran bahan bacaan di berbagai lapisan masyarakat.

 

UPAYA MENUMBUHKAN MINAT BACA MAHASISWA

Berbagai rujukan di atas memberikan suatu hipotesis bahwa minat baca mahasiswa rendah. Sementara itu, infrastruktur yang mengkondisikan agar minat baca tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, perlu upaya-upaya yang dilakukan agar minat baca dapat tumbuh sejak anak usia sekolah atau bahkan sejak dini. Sejak anak-anak dapat membaca buku secara lancar.

Beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk menumbuhkan minat baca pada mahasiswa ini antara lain dilakukan dengan cara :

1.       Proses pembelajaran di kampus harus dapat mengarahkan kepada peserta didik untuk rajin membaca buku dengan memanfaatkan literatur yang ada di perpustakaan atau sumber belajar lainnya. Disinilah peran dosen sebagai pendidik dan pengajar memberikan motivasi melalui pembelajaran mata pelajaran yang relevan memberi tugas kepada peserta didiknya.

2.  Menekan harga buku bacaan maupun buku pelajaran agar terjangkau oleh daya beli pelajar dan mahasiswa.

3.   Buku bacaan dikemas dengan gambar-gambar yang menarik. Bahkan seorang penulis Henny Supolo Sitepu mengemukakan bahwa komik adalah salah satu bentuk bacaan yang bisa menjadi salah satu “pintu masuk” untuk kesenangan anak membaca. Pesan yang disampaikan mudah dicerna anak. Komik, semisal Tintin, dari gambar tokohnya sudah bisa “berbicara” dan bikin tertawa. Bahkan anak yang belum bisa baca-tulis pun akan menangkap ceriteranya.

4.  Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya minat baca mahasiswa. Baik di rumah maupun di sekolah.

5.  Menumbuhkan minat baca sejak dini. Bahkan sejak anak mengenal huruf..

6.   Meningkatkan frekuensi pameran buku di setiap kota/kabupaten dengan meli-batkan penerbit, LSM, perpustakaan, masyarakat pecinta buku, Depdiknas, dan sekolah-sekolah. Dengan mewajibkan pelajar dan mahasiswa untuk berkunjung pada pameran buku tersebut.

7.  Di rumah orang tua memberikan contoh membaca untuk anak-anaknya.

SIMPULAN

Simpulan

Berdasarkan pemaparan tentang minat baca pada  mahasiswa tersebut di atas, dapatlah disimpulkan hal-hal sebagai berikut ini.

  1. bahwa minat baca masyarakat Indonesia, khususnya  mahasiswa relatif rendah. Mereka lebih senang mencari hiburan pada acara di TV, warnet, mall, play station atau tempat hiburan lainnya di banding membaca buku di perpustakaan.
  2. minat baca perlu ditumbuhkan sejak anak usia dini. Sejak mereka telah bisa membaca.
  3. universitas dan dosen belum membudayakan mahasiswa untuk menggunakan perpustakaan sebagai salah satu sumber belajar. Sehingga mahasiswa sangat rendah apresiasinya terhadap karya sastra maupun buku maupun karya tulis lainnya.
  4. minimnya koleksi buku-buku di perpustakaan. Di samping itu, perpustakaan yang ada tidak dikelola secara profesional.
  5. jumlah perpustakaan tidak sepadan dengan jumlah penduduk di Indonesia. Sebagai contoh tidak semua kota/kabupaten di Indonesia memiliki perpustakaan. Sekarang kita baru memiliki 261 perpustakaan dari sekitar 450 kabupaten/kota se-Indonesia, ini berarti masih banyak kabupaten/kota yang belum memiliki perpustakaan.

REFERENSI

Arixs. 2006. Enam Penyebab Rendahnya Minat Baca. TOKOH, Bacaan Wanita dan Keluarga. Senin, 29 Mei 2006.

Hari Karyono  Menunbuhkan minat baca sejak dini [online] Tersedia :http:// http://www.rumahcendaskreatif.com, diakses tanggal 25 desember 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: