PERKEMBANGAN PERILAKU ANAK USIA 12 TAHUN (KELAS 6 SD) YANG MENYIMPANG DI ERA GLOBALISASI Wila Dewi Noviandri 0901160 Kelas PPB A 2009

Globalisasi benar-benar telah mengubah dunia, seluruh aspek-aspek kehidupan telah digeser dengan hal-hal yang lebih praktis, berbau teknologi, dan berkebudayaan barat. Perubahan-perubahan tersebut berdampak positif dan negatif. Dampak potsitif dari kondisi global mendorong manusia untuk terus berpikir, meningkatkan kemampuan, dan tidak puas terhadap apa yang telah dicapai pada saat ini. Sedangkan dampak negative dari globalisasi yaitu keresahan hidup di kalangan masyarakat karena banyaknya konflik yan terjadi, dan tergesernya budaya dan norma timur menjadi budaya barat.
Dampak dari globalisasi juga mempengaruhi perkembangan anak-anak saat ini. Sama halnya, ada yang berdampak positif dan negatif. Anak-anak senantiasa akan mengalami perkembangan intelegensi yang cepat pada saat ini karena didorong dengan lahirnya teknologi, akan tetapi di sisi lain perkembangan kedewasaannya pun akan lebih cepat, sehingga menjadikan mereka anak-anak yang dewasa sebelum waktunya.
Bisa kita lihat perkembangan mental anak-anak di era globalisasi, khususnya anak-anak yang berusia 12 tahun atau anak yang sedang mengenyam pendidikan di kelas 6 SD. Mereka seakan-akan kehilangan jati dirinya sendiri, jenjang usia 12 tahun merupakan proses manuju remaja. Akan tetapi tingkah laku mereka tidak menunjukan kepolosan anak-anak yang hendak beranjak pada keremajaan. Banyak diantara mereka yang telah merokok, berpacaran, bahkan melakukan seks bebas sekalipun. Permasalahan ini benar-benar sudah sangat terlewat batas dan tidak wajar dialami oleh anak usia 12 tahun.

Faktor-Faktor yang Mendorong Perkembangan Anak Menyimpang
Ada beberapa faktor yang menjadikan perkembangan anak-anak menyimpang dari yang seharusnya, yaitu faktor keluarga, lingkungan, dan teknologi.
1. Keluarga
Menurut Yusuf Syamsu (2000:37) mengemukakan bahwa :
Keluarga memiliki peranan penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak. Perawatan orangtua yang penuh kasih sayang dan pendidikan nilai tentang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat.

Oleh karena itu keluargalah yang menentukan suatu individu menjadi individu yang sehat dari lahir dan batinnya atau tidak. Keluarga merupakan pijakan pertama bagi individu untuk mendapatkan segala aspek nilai-nilai.
Akan tetapi tidak sedikit pula peran keluarga pada perkembangan anak tidak berjalan sebagaimana mestinya, seperti orangtua terlalu sibuk dengan pekerjaan pribadinya, orangtua tidak memberikan peran aktif kepada anak di dalam keluarga, orangtua kurang memberikan perhatian kepada anak-anak. Hal itu seringkali terjadi di daerah perkotaan yang identik kedua orangtua mempunyai pekerjaan yang terlampau sibuk.
2. Lingkungan
Lingkungan yang baik akan membentuk perilaku yang baik pula terhadap suatu individu begitupun sebaliknya. Lingkungan masyarakat juga sangat membentuk karakter seseorang, karena anak-anak pada usia 12 tahun sering kali bermain di tengah-tengah masyarakat bersama anak-anak lainnya.
Jika lingkungan masyarakat di sekitar individu tidak sehat maka perilaku individu tersebut akan mengalami perubahan seperti kondisi di lingkungannya berada.
3. Teknologi
Berjuta informasi tidak terbatas sangat mudah didapat pada masa kini, bahkan anak-anak juga mampu mendapatkan informasi yang menggila itu, semakin canggih teknologi di era globalisasi ini mengubah perkembangan anak, banyak hal-hal negative yang dapat anak turuti dari teknologi seperti informasi tentang seks, atau video dan foto yang berbau fornografi sangat mudah di dapat di internet.

Perilaku Perkembangan Anak yang Menyimpang
Karena faktor-faktor diatas dapat kita lihat dalam kehidupan nyata bahwa perilaku anak usia 12 tahun pada saat ini sudah banyak penyimpangan. Mereka seakan tidak layak menjadi pribadi anak-anak lagi.
Satu kasus anak kelas 6 SD, sudah mengerti akan hal pacaran, banyak diantara mereka yang sudah mempunyai seorang pacar, hal itu benar-benar tidak wajar apalagi seorang anak sudah merasakan patah hati dan menangis gara-gara putus cinta, hal tersebut dapat berdampak negative pada perkembangan psikologis anak, diantaranya yaitu anak akan mengalami stress dan mereka akan berperilaku brutal pada kehidupan sehari-hari. Bisa kita rasakan perbedaan perkembangan anak-anak di era globalisasi ini dengan anak-anak zaman dulu, anak-anak zaman dulu identik belum mengerti akan hal seperti itu, akan tetapi di era globalisasi banyak faktor pendorong untuk menjadikan anak-anak berperilaku seperti itu, faktor yang paling dominan yaitu teknologi, semakin canggih teknologi saat ini, semakin mudah pula budaya-budaya barat yang masuk seakan tanpa filter untuk merusak generasi bangsa ini.
Dalam hal ini Bandura dalam Yusuf (2000:9) mengemukakan bahwa anak-anak belajar melalui observasi atau modeling, terdapat empat proses diantaranya yaitu :
1. Attentional, yaitu proses dimana anak menaruh perhatian terhadap tingkah laku atau perilaku orang yang diimitasinya.
2. Retention, yaitu proses yang merajuk kepada upaya anak untuk memasukan informasi tentang segala hal yang ada pada objek yang ditiru anak ke dalam memorinya.
3. Production, yaitu proses mengontrol tentang bagaimana anak merespon hal yang ditirunya.
4. Motivational, yaitu proses pemilihan tingkah laku yang diimitasi oleh anak.
Hal ini jelas bahwa anak-anak akan belajar meniru dari apa yang mereka lihat dan mereka ketahui. Setelah mereka tiru mereka akan merespon dan akhirnya mereka mengaplikasikan tiruan mereka pada kehidupan nyata. Yang paling mudah untuk ditiru anak-anak yaitu acara dalam televise, seperti sinetron-sinetron dan film seakan menjadi contoh yang paling mudah untuk ditiru oleh anak-anak.
Kasus yang lainnya yaitu anak-anak yang sudah mampu membuka situs fornografi, banyak anak-anak SD yang sudah mampu mengopersikan handphone dan menggunakan fasilitas internet.

Pencegahan Agar Perilaku Anak Tidak Menyimpang
Pencegahan dalam permasalahan perkembangan perilaku anak menyimpang yaitu lebih ditekankan pada keluarga, karena keluarga adalah kelompok pertama yang berkomunikasi dengan anak-anak. Seharusnya perhatian orangtua lebih diperbanyak, karena dengan perhatian saja banyak hal-hal positif yang berpengaruh terhadap perkembangan perilaku anak. Misalnya, anak selalu diperhatikan dan selalu dekat dengan kedua orangtuanya, sehingga anak akan bersikap jujur dan terbuka terhadap orangtuanya, dari hal tersebut orangtua dapat mengontrol perilaku anak, jika dalam sikap anak tersebut sudah terlihat perkembangan perilaku yang menyimpang maka orangtua segera meluruskan perilaku mereka

REFERENSI

Yusuf, Syamsu. 2000. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nurihsan, Achmad Juntika. 2006. Bimbingan dan Konseling dalam Berbagai Latar Belakang. Bandung:Refrika Aditama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: