Peranan Konselor Dalam Mengatasi Bullying di Sekolah Oleh Anisa Rahmadani 0900853 Mahasiswa Jurusan PPB 2009

Dewasa ini, makin dikenal istilah bullying dalam dunia pendidikan kita. Bullying kini tidak hanya dilakukan oleh remaja-remaja, namun mulai dilakukan oleh anak-anak juga. Maraknya aksi bullying atau tindakan yang membuat seseorang merasa teraniaya madalah lagu lama bagi kita. Namun hingga kini kita seolah-olah menutup mata terhadap tindakan yang dapat membahayakan keadaan psikis seseorang itu. Sebenarnya, apa itu bullying? Dan mengapa bullying bisa sangat membahayakan jiwa seseorang?

Apa itu bullying?
Bullying, atau istilah yang dikenal sebagai ‘’gencet-gencetan’’ di kalangan remaja, adalah suatu bentuk kekerasan anak (child abuse) yang dilakukan teman sebaya kepada seseorang yang lebih ‘rendah’ atau lebih lemah untuk mendapatkan keuntungan atau kepuasan tertentu. Menurut Andrew Melor dari Antibullying Network University of Edinburgh ,
“bullying terjadi ketika seseorang merasa teraniaya oleh tindakan orang lain baik yang berupa verbal, fisik, maupun mental dan orang tersebut takut bila perilaku tersebut akan terjadi lagi”

Tindakan bullying secara verbal contohnya adalah memanggil dengan nama yang bersifat menghina,mengolok,mempermalukan, atau mengancam. Sedangkan bullying secara fisik adalah tindakan menyakiti orang lain secara fisik, seperti memukul, menampar, menjambak, meludah, dan lain-lain. Dan yang terakhir bullying secara social, misalnya mengucilkan seseorang, menyebarkan isu atau rumor tentang seseorang, dan membuat seseorang terlihat bodoh di depan orang lain.
Siapa pelaku bullying?
Menurut artikel yang saya baca di situs internet,umumnya bullying dilakukan oleh siswa yang lebih senior kepada adik kelasnya,tidak jarang juga ada siswa yang menggencet temen seangkatannya. Bisa juga dilakukan oleh sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan terhadap siswa lain yang lebih lemah,dengan tujuan menyakiti orang tersebut. Selain itu,bullying juga bisa dilakukan oleh individu untuk membalaskan dendam pribadi.

Bagaimana Bullying Terjadi?
Umumnya bullying merupakan sebuah siklus,dalam artian pelaku bullying saat ini merupakan korban bullying dari pelaku sebelumnya. Tindakan bullying juga berbeda pada tiap tingkatan umur anak. Psikolog UI,Ratna Djuwita mengatakan,
“Bentuk bullying yang terjadi pada setiap tingkatan umur anak berbeda. Makin muda umur anak, biasanya bullying lebih mengarah kepada fisik. Makin bertambah usia, makin ke verbal dan psikologis”

Sebagai contoh, praktik bullying pada anak SMP. Mereka akan menggunakan kekerasan secara fisik, seperti menampar atau menjambak rambut korbannya. Berbeda dengan bullying di kalangan SMA, korban biasanya lebih sering disakiti secara verbal dan psikologis, seperti dihina,dicaci maki, difitnah yang akan lebih berdampat negatif pada keadaan psikisnya. Sudah jelas disini bahwa tiap tahapan umur,bullying yang dilakukan pun berbeda. Apabila umur anak masih muda, maka bullying yang dilakukan akan cenderung menykiti secara fisik, namun dengan bertambah matangnya anak, yang mungkin juga belajar dari pengalaman bahwa luka hati akan lebih ‘hebat’ daripada luka fisik, maka anak pun mulai meningkat dengan menggunakan bullying secara psikologis,yang tentunya akan berdampak lebih hebat pula pada keadaan psikis korban.

Apakah Dampak Bullying?
Tindakan bullying tentu saja meresahkan dan membawa dampak yang tidak sehat secara psikologis, terutama kepada anak yng menjadi korban. Ahli psikologi, Riauskina berkata,
“dampak psikologis dari bullying adalah rasa cemas yang berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri, dan gejala-gejala gangguan stress pasca-trauma(post traumatic stress disorder), merasa hidupnya tertekan, takut bertemu pelaku bullying, bahkan depresi dan berkeinginan untuk mengakhiri hidupnya dengan menyilet-nyilet tangannya sendiri. Dampak lainnya dari bullying adalah kesulitan diri dengan lingkungan sosial,ingin pindah dari sekolahnya dan terganggu prestasi akademisnya”.

Bagaimana Peranan Konselor dalam Mengatasi Bullying?
Dari penelitian yang dilakukan,ahli psikologi Riauskina menyimpulkan bahwa,
“ Ketika seorang anak mengalami bullying, korban merasakan banyak emosi negatif (marah, dendam, kesal, tertekan, takut, malu, sedih, tidak nyaman, terancam) namun tidak berdaya menghadapinya. Dalam jangka panjang emosi-emosi ini dapat berujung pada munculnya perasaan rendah diri bahwa dirinya tidak berharga”.

Begitu hebatnya dampak bullying pada jiwa seseorang, padahal hal itu bermula dari hal-hal kecil yang bahkan kita pun menganggapnya remeh, -seperti memanggil nama ejekan, atau membuat seseorag terlihat bodoh di depan teman-temannya-,yang bagi kita itu adalah
semacam hiburan yang bisa membuat orang lain tertawa. Namun hal kecil seperti itulah yang akan berdampak besar bagi keadaan psikologis korban. Biasanya korban bullying cenderung diam,tidak berdaya dan tidak berani menceritakan masalahnya kepada siapapun, karena takut akan dicap sebagai pengadu, pecundang, atau dibawah ancaman orang yang mem-bully-nya. Disinilah peranan seorang konselor,untuk menolong koban bullying dan sebisa mungkin mengurangi tekanan psikisnya. Ada banyak hal yang bisa dilakukan seorang konselor dalam meminimalisir tindakan bullying di sekolah, misalnya saja dengan mendekati anak yang pendiam di sekolah. Karena bisa saja anak yang diam itu adalah korban bullying. Konselor juga harus bisa memposisikan dirinya sebagai pendengar sehingga korban bisa mencurahkan perasaannya agar tidak terjadi trauma yang berkepanjangan. Atau saat mengatasi anak yang bermasalah,pendekatan yang dilakukan pun harus dilakukan senyaman mungkin bagi si anak, sehingga anak yang bermasalah tersebut tidak akan melampiaskan masalahnya dengan cara mem-bully temannya. Seorang konselor juga bisa aktif memonitoring kegiatan-kegiatan anak didiknya, terutama pada kegiatan masa orientasi, ekskul, ataupun kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan latihan kepemimpinan, karena umumnya kegiatan tersebut mendukung sekali terjadinya perloncoan dari senior kepada juniornya. Naun yang hal yang dirasa paling efektif adalah kepedulian konselor sendiri terhadap anak didiknya yng bermasalah, dan bersama-sama menyelesaikan masalah tersebut sehingga kontak fisik tidak perlu ada.

Kesimpulan
Bullying merupakan sebuah siklus, dalam artian perilaku bullying saat ini merupakan korban bullying dari perilaku sebelumnya. Hal ini sebenarnya dirasa ironis, karena tentunya pelaku bullying sekrang sudah merasakan efek negatif ketika menjadi korban bullying sebelumnya. Namun karena sudah berbentuk sebuah siklus, para korban akhirnya membentuk sebuah persepsi yang salah bahwa bullying bisa dibenarkan dan meneruskan bullying tersebut kepada junior mereka. Seorng konselor tentunya harus meluruskan persepsi tersebut, sehingga bullying tidak lagi berbentuk sebuah siklus yang tiada ujungnya. Bullying memang tidak bisa dihilangkan begitu saja dalam pendidikan kita, namun tugas kita sebagai konselor sedikit banyak bisa meminimalisir tindakan bullying, sehingga para peserta didik dapat menimba ilmu dengan tenang di sekolah, tanpa ada tekann psikologis yang dirasakannya. Karena itulah, mendidik anak dalam suasana penuh kasih saying sehingga anak memiliki kebanggan dan penghargaan pada dirinya sendiri, merupakan hal yang harus diprioritaskan.
Referensi
Yusuf LN, Syamsu (2008). Perkembangan Psikologi Anak dan Remaja.
Bandung : Remaja Rosda
Zainal Asikin (2009). “Bullying di Sekolah Kita” WordPress,[online].Tersedia (http://en.wikipedia.org.wiki.workplace_bullying) [17 Februari 2009]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: