FASE BERMAIN ANAK Rina Anur Sari (0901191)

Pendahuluan
Masa ana-anak bisa di bilang masa yang paling menyenangkan karena pada masa itu anak-anak bebas bermain, tidak memikirkan masalah-masalah seperti yang kita alami sekarang ini. Anak-anak setiap hari cenderung merasakan suatu kebahagiaan, meskipun tidak semua anak merasakan suatu kebahagiaan di masa kecilnya, anak-anak biasanya menghabiskan waktunya untuk bermain, bukan hanya bermain untuk kesenangan semata tapi, namun banyak juga bentuk permainan yang dapat mengasah otak, merangsang pertumbuhan, perkenbangan dan lain sebagainya.
Pada usia balita berikan mainan-mainan yang dapat membuat anak aktif bergerak, serta yang dapat mengasah otak kanan dan kirinya, karena pada usia balita itu masih mudah untuk menangkap informasi-informasi atau tindakan-tindakan yang di lakukannya. Oleh karena itu sebisa mungkin memberikan anak itu kebebasan dalam bermain namun dalam permainan itu terkandung suatu unsur belajar, sehingga secara tidak lengsung kita memberikan pembelajaran tanpa membuat anak tersebut merasa bosan atau tidak nyaman.
Apakah Anak Perlu Bermain ?
Jawabannya adalah ya,anak-anak perlu bermain, tapi terkadang ada juga orang tua yang membatasi anak tersebut untuk bermain, itu berarti sama saja mereka membatasi pertumbuhan dan perkembangannya.secara psikologis di masa anak-anak, mereka butuh bermain untuk kesenangannya.
Catron & Allen, 1999 ( tadkiroatun musfiroh, 5 ) menyatakan bahwa “ anak bermain karena mereka memerlukan energi berlebih “. Energi ini mendorong mereka untuk melakukan aktifitas sehingga mereka terbebas dari perasaan tertekan.
1
2

Ini berarti jelas bahwa dalam diri anak terkandung energi-energi positif yang sangat banyak, dan energi-energi tersebut salah satunya di gunakan untuk bermain.
Insenberg & jalongo, 1993 ( tadkiroatun musfiroh, 5 )” Anak bermain karena mereka perlu melepaskan desakan-desakan emosi secara tepat ”. Anak dapat mengembangkan rasa harga diri lewat bermain, karena dengan bermain anak memperoleh kemampuan untuk meguasai tubuh mereka, benda-benda, dan keterampilan sosial ( Erikson, 1963 ).
Bukan hanya orang dewasa yang mempunyai emosi namun anak-anak pun mempunyai emosi dengan bermain anak-anak bisa melepaskan desakan emosi tersebut karena dengan bermain anak-anak akan merasa begitu bahagia. Apabila anak itu sudah bermain dan permainan tersebut menurut mereka menyanangkan, maka anak tersebut terus mengulang permainan itu sampai beberapa kali.
Bermain untuk Perkenbangan Anak
Lewat bermain anak dapat mengenbangkan daya imajinasi dan kekreatifitasannya. Bukan hanya untuk mencari kesenangan semata dalan bermain, ternyata lewat bermain juga dapat berpengaruh dalam perkenbangannya. Anak-anak selalu ingin melakukan hal-hal baru dalam permainannya.
Einstein, 1973 ( tadkiroatu musfiroh, 9 ) menyatakan bahwa ”permainan kombinasi menjadi bagian penting dari pikiran kreatifnya ”. Bahwa permainan membentuk satu bagian dari enam wilayah pembelajaran ( yang salah satunya adalah wilayah kreatif ).
Dengan memberikan permainan yang berkombinasi anak-anak bisa lebih dapat mengasah otak kanan dan kirinya. Dan ternyata bermain merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam periode perkembangan diri anak yang meliputi dunia fisik, sosial, dan sistem komunikasi serta bermain juga berkaitan erat dengan pertumbuhan anak tersebut. Dalam diri anak tersimpan potensi, namun potensi tersebut tidak akan muncul dengan sendirinya tapi harus digali
3
dan dikembangkan. Maka dari itu orang tua harus dapat melihat potensi apa yang dimiliki oleh anaknya tersebut. Dan potensi itu salah satunya dapat di lihat lewat bermain . setiap anak memiliki potensi atau bakat yang berbeda-beda satu sama lainnya. Ada anak yang memiliki potensi di bidang akademi, seni, olahraga dan lain-lain. Tinggal bagaimana cara kita mengoptimalkan potensi tersebut.
Belajar dalam Bermain
Belajar tidak hanya di sekolah saja, tapi di rumah pun bisa. Untuk anak-anak belajar bisa lewat bermain. Dengan menyampaikan suatu pembelajaran lewat bermain anak-anak tidak akan merasa bosan atau terpaksa dalam menjalaninya. Dan guru pertama bagi anak adalah orng tuanya, maka sebisa mungkin orang tua memberikan contoh yang baik untuk anak-anaknya. Contohnya adalah mengenai kebersihan diri anak tersebut, yaitu mencuci tangan sebelum makan, menggosok gigi secara teratur, mandi minimal dua kali sehari, dan lain sebagainya.
Semiawan, 2003 ( tadkiroatun musfiroh, 16 ) menyatakan bahwa ” manusia belajar secara terus menerus untuk mampu mencaapai kemandirian dan sekaligus mampu beradaptasi terhadap berbagai perubahan lingkungan ”. Hasil belajar mungkin bisa langsung di amati, mungkin juga tidak. Bagi anak-anak, belajar dapat dilakukan dengan bermain. Aktivitas itulah yang sesungguhnya merupakan sarana bermain anak.
Di harapkan anak bisa menangkap suatu pembelajaran yang baik lewat bermain itu. Meskipun hasil belajar itu tidak selalu bisa langsung di amati, tapi hasil itu suatu saat akan nampak lewat tingkah laku atau yang lainnya.

Kesimpulan
Bermain ternyata mampu mengenbangkan daya imajinasi si anak dan juga memberi kesenangan pada dirinya, melalui bermain, anak mengalami proses belajar, proses mencipta, dan proses menemukan. Melalui kegiatan
4
bermain anak bisa belajar banyak hal mulai dari asah kekreatifitasannya, kecerdasan hingga jiwa sosial.

Referensi
Musfiroh, tadkiroatun.2008.Cerdas Melalui Bermain.Jakarta:PT. Grasindo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: