DISIPLIN APAKAH PENJARA? Hakim Herlambang Afghandi Mahasiswa Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Kelas A 2009

Pendahuluan
Dewasa ini peserta didik dinilai masih kurang dalam hal pemahaman kedisiplinan, kebanyakan dari mereka masih memahaminya sebagai bentuk kekangan terhadap kebebasan diri mereka, kurangnya pengetahuan mengenai tujuan diciptakannya aturan-aturan yang mendisiplinkan merupakan salah satu faktor di antara faktor-faktor yang menyebabkan peserta didik menjadi kurang disiplin atau tidak taat terhadap aturan-aturan yang ada, juga minimnya teladan yang diberikan lingkungan terhadap masing-masing pribadi peserta didik , sehingga membuat kedisiplinan ini sendiri laksana momok bagi diri mereka tanpa mengetahui apa yang membuat kedisiplinan ini hadir dan tampak begitu menakutkan.
Penerapan Disiplin
Tahapan yang sepatutnya dilakukan:
– Pemberian pemahaman mengenai efek dari kedisiplinan.
– Pendekatan secara persuasif.
– Pemberian pengertian akan kemungkinan yang terjadi apabila kedisiplinan ini enggan diterapkan.
– Pemberian teladan yang baik oleh lingkungan.
Dalam hal ini, penerapan poin-poin tersebut sangat utama sekali dilakukan oleh penegak kedisiplinan, tentunya dengan dukungan dari lingkungan peserta didik itu sendiri, sehingga akibat atau efek positif diharapkan akan sangat mengena ke dalam diri peserta didik.
Faktor-faktor yang mempengaruhi:
– Keluarga (teladan yang diajarkan), sangat utama sekali keluarga ini menjadi penyumbang yang memiliki andil besar untuk mengarahkan peserta didik ke dalam kondisi pemikiran yang kondusif yang terarahkan ke jalur positif, dengan contoh-contoh atau teladan yang diberikan dalam keseharian diharapkan peserta didik pun menjadi lebih terbiasa dan lebih mau menerima terhadap aturan-aturan yang mendisiplinkan serta menerapkannya ke dalam setiap gerak langkah kehidupan.
– Lingkungan (rumah, sekolah), dengan kondisi lingkungan yang kondusif yang secara tak langsung mengarahkan ke jalur positif, maka sudah tentu ini akan memberi pengaruh yang sangat signifikan terhadap pemahaman mengenai baik dan buruk akan berbagai hal, termasuk dalam hal kedisiplinan juga tentunya.
– Pendidikan yang pernah dialami, termasuk ke dalam hal yang menentukan dalam kedisiplinan mengenai pendidikan yang pernah atau telah dilalui peserta didik, karena dapat dipastikan manakala pendidikan yang dialami tersebut telah cukup dan baik, maka secara langsung akan memberi efek mudah masuknya pemahaman tentang kedisiplinan.
– Karakteristik peserta didik, inilah faktor yang membedakan antara peserta didik yang satu dengan yang lain, baik itu perbedaan dalam hal kecepatan dalam pemahaman maupun kecakapan dalam menerapkan kedisiplinan, dengan karakteristik yang lebih baik dan lebih menunjang tentu peserta didik tipe seperti inilah yang diharapkan lebih baik dibandingkan dengan peserta didik dengan tipe lain yang berada di bawahnya.
Peranan guru yang ternyata memiliki andil besar, seperti dikutip dari getskripsi.com:
Dalam perkembangan peradaban dan kebudayaan suatu bangsa, tidaklah cukup dengan hanya memiliki kecerdasan berfikir dan kemampuan intelektual saja, tetapi juga harus disertai dengan kesehatan mental dan budi pekerti yang luhur atau akhlak yang mulia. Sebagian besar masyarakat berpandangan bahwa upaya untuk meningkatkan kecerdasan berpikir, pembangunan mental, budi pekerti atau akhlak mulia adalah tugas dunia pendidikan atau secara khusus tugas sekolah. Dewasa ini, keberadaan sekolah benar-benar sangat diperlukan, karena sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menyelenggarakan proses belajar mengajar untuk membimbing, mendidik, melatih dan mengembangkan kemampuan siswa untuk mencapai tujuan pendidikan diantaranya adalah menjadi manusia yang berbudi pekerti atau akhlak yang luhur. Hal tersebut sesuai dengan tujuan pendidikan nasional Indonesia sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 : …bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab (UU Sisdiknas, 2003:7). Menurut Imam Barnadib (2003:3) bahwa watak yang tidak bermoral perlu dicegah kehadirannya dalam pergaulan manusia. Untuk mewujudkan hal itu diperlukan upaya pembinaan jangka panjangdan harus dimulai sejak dini, antara lain mulai dari keluarga, kemudian dari lingkungan sekolah dan masyarakat. Di lingkungan sekolah guru memegang peranan penting dalam proses pembentukan dan perkembangan akhlak peserta didik. Sebagai pendidik guru tidak hanya bertugas untuk menyampaikan mata pelajaran tertentu saja, tetapi juga dituntut untuk dapat membimbing, mengarahkandan memberikan teladan yang terpuji sehingga dapat membantu menumbuhkan perilaku yang baik serta akhlak mulia pada peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
PENUTUP
Terdapat beberapa faktor yang terkadang terlupakan untuk menunjang kedisiplinan peserta didik, di antara beberapa hal yang terkadang terlupakan itu telah disebutkan dalam pembahasan di atas. Aspek yang cukup menentukan kedisiplinan peserta didik ternyata selain diperoleh dari lingkungan keluarga ternyata didapat juga dari lingkungan sekolah, dalam hal ini guru lah yang memiliki andil cukup besar, yaitu keteladanan yang dimiliki dan diajarkan lewat keseharian perilaku oleh figur guru tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Getskripsi.2008.”Kedisiplinan Guru Pengaruhnya Terhadap Akhlak Siswa”[Online]Tersedia: http: //www.getskripsi.com.[26 Oktober 2009]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: