PERILAKU KONSUMTIF PADA REMAJA

Nama:Elis Ajizah
0900367
Suci Sundusiah M.pd

Setiap orang memiliki kebutuhan hidupnya masing-masing. Kebutuhan itu berusaha untuk dipenuhinya dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang memenuhi kebutuhannya secara wajar dan ada juga yang berlebihan dalam pemenuhan kebutuhannya. Hal tersebut menyebabkan orang-orang untuk berperilaku konsumtif. Perilaku konsumtif seperti ini terjadi pada hampir semua lapisan masyarakat. Tidak hanya pada orang dewasa, perilaku konsumtif pun banyak melanda para remaja.
Remaja memang sering dijadikan target pemasaran berbagai produk industri, antara lain karena karakteristik mereka yang labil, spesifik dan mudah dipengaruhi sehingga akhirnya mendorong munculnya berbagai gejala dalam perilaku membeli yang tidak wajar. Membeli tidak lagi dilakukan karena produk tersebut memang dibutuhkan, namun membeli dilakukan karena alasan-alasan lain seperti sekedar mengikuti mode, hanya ingin mencoba produk baru, ingin memperoleh pengakuan sosial dan sebagainya.
Remaja merupakan obyek yang menarik untuk diminati oleh para ahli pemasaran. Kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial bagi produsen karena remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya, lebih mudah terpengaruh teman sebaya dalam hal berperilaku dan biasanya lebih mementingkan gengsinya untuk membeli barang-barang bermerk agar mereka dianggap tidak ketinggalan zaman.
Perilaku konsumtif remaja terhadap barang-barang bermerk menarik untuk diteliti mengingat remaja sebenarnya belum memiliki kemampuan finansial untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu, hal tersebut menarik untuk diangkat menjadi topik pembahasan dalam artikel karya ilmiah ini

PERILAKU KONSUMTIF REMAJA TERHADAP
BARANG-BARANG BERMERK

A.    PERILAKU KONSUMTIF
James F. Engel (dalam Mangkunegara, 2002: 3) ”mengemukakan bahwa perilaku konsumtif dapat didefinisikan sebagai tindakan-tindakan individu yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh dan menggunakan barang-barang jasa ekonomis termasuk proses pengambilan keputusan yang mendahului dan menentukan tindakan-tindakan tersebut.
Perilaku konsumtif bisa dilakukan oleh siapa saja. Fromm Pendapat di atas berarti bahwa perilaku membeli yang berlebihan tidak lagi mencerminkan usaha manusia untuk memanfaatkan uang secara ekonomis namun perilaku konsumtif dijadikan sebagai suatu sarana untuk menghadirkan diri dengan cara yang kurang tepat. Perilaku tersebut menggambarkan sesuatu yang tidak rasional dan bersifat kompulsif sehingga secara ekonomis menimbulkan pemborosan dan inefisiensi biaya. Sedangkan secara psikologis menimbulkan kecemasan dan rasa tidak aman.Konsumen dalam membeli suatu produk bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan semata-mata, tetapi juga keinginan untuk memuaskan kesenangan. Keinginan tersebut seringkali mendorong seseorang untuk membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Hal ini dapat dilihat dari pembelian produk oleh konsumen yang bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan semata tetapi juga keinginan untuk meniru orang lain yaitu agar mereka tidak berbeda dengan
anggota kelompoknya atau bahkan untuk menjaga gengsi agar tidak ketinggalan jaman.
Keputusan pembelian yang didominasi oleh faktor emosi menyebabkan timbulnya perilaku konsumtif. Hal ini dapat dibuktikan dalam perilaku konsumtif yaitu perilaku membeli sesuatu yang belum tentu menjadi kebutuhannya serta bukan menjadi prioritas utama dan menimbulkan pemborosan.
Hal-hal yang Berkaitan dengan Perilaku Konsumtif
Konsumtif menjelaskan keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal.
Berdasarkan definisi di atas, maka dalam perilaku konsumtif Tambunan (2001) berpendapat ada dua aspek mendasar, yaitu :
1)    Adanya suatu keinginan mengkonsumsi secara berlebihan.
2)    Pemborosan. Perilaku konsumtif yang memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produknya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok. Perilaku ini hanya berdasarkan pada keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal.
3)    Inefisiensi Biaya. Pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja yang biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya sehingga menimbulkan inefisiensi biaya.
1.    Pengenalan kebutuhan
Pengambilan keputusan membeli barang dengan mempertimbangkan banyak hal seperti faktor harga, faktor kualitas, faktor manfaat, dan faktor merk. 2.Emosional
Motif pembelian barang berkaitan dengan emosi seseorang. Biasanya konsumen membeli barang hanya karena pertimbangan kesenangan indera atau bisa juga karena ikut-ikutan.
Berdasarkan pengertian yang telah dikemukakan bahwa aspek-aspek perilaku konsumtif yang dikemukakan Tambunan (2001) lebih bersifat penjelasan terhadap keinginan seseorang dalam melakukan pembelian terhadap barang-barang kebutuhan, sehingga peneliti cenderung menggunakan aspek dari Tambunan yaitu keinginan untuk mengkonsumsi secara berlebihan dan perilaku yang bertujuan untuk mencapai kepuasan semata guna penyusunan skala.

B.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumtif Remaja
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif ada dua, yaitu internal dan eksternal :
a.    Faktor Internal. Faktor internal ini juga terdiri dari dua aspek, yaitu faktor psikologis dan faktor pribadi.
a)    Faktor psikologis, juga sangat mempengaruhi seseorang dalam bergaya hidup konsumtif
b)    Motivasi, dapat mendorong karena dengan motivasi tinggi untuk membeli suatu produk, barang / jasa maka mereka cenderung akan membeli tanpa menggunakan faktor rasionalnya.
c)    Persepsi, berhubungan erat dengan motivasi. Dengan persepsi yang baik maka motivasi untuk bertindak akan tinggi, dan ini menyebabkan orang tersebut bertindak secara rasional.
d)    Sikap pendirian dan kepercayaan. Melalui bertindak dan belajar orang akan memperoleh kepercayaan dan pendirian. Dengan kepercayaan pada penjual yang berlebihan dan dengan pendirian yang tidak stabil dapat menyebabkan terjadinya perilaku konsumtif.
b.    Faktor Eksternal / Lingkungan. Perilaku konsumtif dipengaruhi oleh lingkungan di mana ia dilahirkan dan dibesarkan. Variabel-variabel yang termasuk dalam faktor eksternal dan mempengaruhi perilaku konsumtif adalah kebudayaan, kelas sosial, kelompok sosial, dan keluarga.
Upaya Bimbingan dan Konseling dalam Menanggulangi Masalah Perilaku Konsumtif Remaja Terhadap Barang-Barang Bermerk

Perilaku konsumtif remaja terhadap barang-barang bermerk banyak tumbuh pada remaja yang besar dan tumbuh di kota-kota besar sehingga mereka menjadikan mall sebagai rumah keduanya. Seperti contoh kasus di atas. Salah satu alasanya, mereka ingin menunjukkan diri bahwa mereka juga dapat mengikuti mode yang sedang beredar. Padahal mode itu sendiri selalu berubah, sehingga para remaja tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya.
dalam peniruan ini. Hal ini menyebabkan banyak orang tua yang mengeluh saat anaknya mulai memasuki dunia remaja. Salah satu penyebab timbulnya keluhan orangtua, karena sebagian perilaku remaja menimbulkan masalah ekonomi pada keluarganya.
Dengan banyaknya dampak negatif akibat perilaku konsumtif ini, maka upaya bimbingan dan konseling diperlukan dalam menanggulangi perilaku konsumtif. Bimbingan dan konseling dapat melakukan upaya kuratif, karena apabila perilaku konsumtif tersebut dibiarkan maka akan terus mengakar di dalam gaya hidup dan akan berlanjut sampai dewasa. Dampak negatif akan lebih besar terjadi apabila pencapaian finansial didapatkan melalui segala macam cara yang tidak sehat. Teknik yang digunakan adalah konseling individual melalui interaksi yang berkelanjutan antara konselor dan konseli sehingga mengkontrol dirinya dan perilaku konsumtif remaja tersebut dapat disembuhkan.

DAFTAR PUSTAKA

Hurlock, E.B.1999. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Alih bahasa : Istiwidayanti. Jakarta : Erlangga.
Mangkunegara, Anwar Prabu. 2002. Perilaku Konsumen. Bandung : PT. Refika Aditama.

Kotler, P. 2000. Manajemen Pemasaran di Indonesia. Jilid 1. Jakarta: Salemba Empat.

Swastha, B. H. D. 1998. Manajemen Pemasaran: Analisa Perilaku Konsumen. Yogyakarta: Liberty.

Tambunan, R. 2001. Remaja dan Perilaku Konsumtif. Jurnal Psikologi dan Masyarakat. [Online]. Tersedia: http//:www.e-psikologi.com/remaja/191101.htm. (29 September 2009).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: